Click this

Monday, April 18, 2011

ISTANA KEDUA



Mungkin, dongeng seorang perempuan harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan.

Seperti itu kutipan yang saya baca ketika membuka buku mendekati prolog Istana Kedua, sebuah novel karya Asma Nadia. Menggiris. Dan berikutnya tanpa dapat saya tahan hati saya terasa retak dan dibanting-banting kemudian yang ada saya ikut menangis dan hancur bersamaan dengan paragraf-paragraf luka Arini. Arini, istri yang sempurna dalam ukuran seorang manusia. Sehat, berbudi baik, ibu hebat dan segala hal yang seorang lelaki idamkan ada pada sosok Arini. Arini tidak seanggun putri, tapi dia selalu jatuh cinta pada cerita dongeng, bahwa setelah mereka bertemu dan menikah pangeran dan putri akan hidup bahagia selamanya... Arini seorang penulis dengan cerita yang kesemuanya punya kesamaan : happy ending.

Arini bertemu Pras dalam keajaiban, seperti dongeng Cinderella dimana ada bagian sang pangeran membawakan pasangan sepatu yang hilang untuk putri. Lelaki itu pangeran tampannya, dan Arini jatuh cinta. Sejak itu mereka tidak pernah kembali bertemu, namun ingatan Arini terlanjur menyimpan sosok rupawan bagai pangeran dibenaknya, Pangeran dengan nama entah siapa. Pangeran yang dihari wisudanya kemudian diketahui adalah sosok yang dekat dengan Arini sejak dia kecil. Pangeran itu bernama Pras, teman Mas Putra kakak Arini. Pernah membantunya turun ketika dia tersangkut diatas pohon. Pernah, bahkan sering menyelamatkannya ketika menghadapi kejadian-kejadian akibat kebandelannya. Memalukan, namun segala rasa itu memang tidak bisa terencana... Arini jatuh cinta dan menikah. Ya, dengan Pras... pangeran pembawa pasangan sepatu Arini.

Pras benar-benar pangerannya, Arini merasa sangat beruntung mendapatkan lelaki itu yang begitu mirip dengan Ayahnya, setia dan penyayang. Kasih ayah pada ibunya semakin membuat Arini terpesona, mereka mesra diusia pernikahan yang berpuluh tahun. Putra-putri yang menakjubkan lahir kemudian, buah kebahagiaan pernikahan mereka. Hingga suatu hari Arini menemukan kenyataan pahit, sebuah dongeng yang hancur karena mengetahui sebuah kebenaran : Pras mempunyai istana kedua. Nyonya Pras yang lain. Istana yang Arini bangun dengan cinta dan impian, runtuh seketika.

Mei Rose seorang wanita keturunan yang seumur hidupnya terus mengalami luka, cobaan-cobaan menderanya tanpa ampun. Dia ingin mati. Tapi lelaki itu menyelamatkannya, lelaki yang menghapus penilaian Mei tentang lelaki-lelaki lain yang duluan muncul. Lelaki yang dengan penuh kasih sayang menggendong anaknya dengan penuh sayang. Anak yang dia benci dan dia inginkan mati bersama tubuhnya. Anak yang kuat dan tetap bertahan hidup meskipun segala usaha Mei Rose lakukan untuk membunuhnya, anak yang merupakan bayangan seorang lelaki sok simpatik yang ia benci. Lelaki penuh kasih bernama Pras itulah yang membuatnya percaya kepada Tuhan untuk memohon agar Pras benar-benar jatuh cinta padanya dan anaknya. Sekalipun dia telah menikah... Mei ingin membuatnya tinggal bagai cahaya penerang dalam hidup ia dan anaknya yang gelap. Bukankah selama ini Mei juga mencari seorang lelaki yang telah beristri? Ia tidak akan keberatan diduakan bahkan tidak diberi nafkah materi, gajinya sendiri lebih dari cukup.

Pras, sejak kecil hidup dengan pemahaman Ibunya begitu terluka karena ada keluarga lain bagi ayahnya selain dia dan ibunya. Pras tidak pacaran, dan tidak berkenan melakukannya... rasa ketertarikan selalu ada namun dia merasa belum menemukan keinginan untuk menjadikan mereka-mereka itu istrinya. Waktu-waktu Pras terisi dengan catatan-catatan cintanya dalam berbagai bahasa dalam buku yang dia beri nama Catatan-Catatan Cinta Untuk Calon Istriku.

Istrinya, cinta pertamanya. Satu-satunya dan kenyataan indah itu yang ingin dibawa Pras sampai akhir usia. "Tapi setiap lelaki adalah kucing liar, Pras," Arman sahabatnya menggoda.

Menikah karena membantu? Sepertinya hanya banyak terdapat pada zaman Rasulullah, alasan bohong jika itu terjadi di zaman sekarang ini. Lelaki memang sering menutupi fakta bahwa pernikahan mereka yang berikutnya setelah pertama adalah karena mereka naksir, jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Mengapa segala persoalan selalu perempuan yang disalahkan? Kurang merawat tubuh, kurang ini, kurang itu? Kenapa semua seolah jadi pembenaran bagi hawa nafsu lelaki yang tidak mereka kendalikan dengan baik?

Apakah iman dapat terkikis habis oleh waktu?

Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?
(Arini)

Asma Nadia penulis buku ini dengan piawai perangkai kata-kata, tragedi demi tragedi yang sangat mudah membuat kita terhanyut. Hati kita akan pecah berantakan dan ikut terserak membaca jengkal demi jengkal penuturan Arini. Ikut berduka dan perih membaca cerita hidup Mei Rose. Novel yang begitu kuatnya emosi para karakter yang dijabarkan mampu membuat saya bersedih dan kesal pada satu waktu yang bersamaan. Saya berduka pada segala tragedi yang dialami Mei Rose, tragedi yang sungguh perih dan sulit terbayang betapa melukainya potongan-potongan kejadian itu dalam diri seorang perempuan. Namun yang tidak bisa saya sepakati adalah sudut pandang seorang Mei Rose tentang kebahagiaan : bahwa seolah-olah karena seseorang mengalami banyak hal perih semasa hidupnya dia merasa begitu legal merebut kebahagiaan milik orang lain. Mungkinkah ada perempuan-perempuan yang berpandangan begini? Sedemikian banyaknya hingga salah satunya diabadikan dalam karakter sebuah novel? Perempuan yang berpandangan : Hai kamu kan selama ini selalu bahagia, sementara saya begitu penuh luka... jadi tidak apa-apa kan kalau saya memaksa kamu membagi suamimu untuk saya?

Sungguh membaca novel ini membuat emosi saya teraduk-aduk... namun banyak sekali hikmah yang diselipkan novel ini, sudut pandang yang harusnya dicerna semua lelaki. Bahwa poligami bisa sangat menyakiti seorang istri.. Bahwa :mengapa cuma memandang Rasulullah selama berpoligami? Mengapa tidak memandang beliau ketika 28 tahun bersama khadijah? Pernah saya membaca tulisan seseorang di socmed mencantumkan ini :

Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah. Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.


Atau sebuah kutipan yang saya ambil dari seorang penulis buku religius :

Tiga dari 5 lelaki utama ummat ini (Muhammad, 'Utsman, 'Ali) tidak mempoligami isteri pertama. Dua yang lain ya. Jadi silakan pilih sikap
(Salim A. Fillah, penulis*)


Dari keseluruhan isinya, novel ini benar-benar saya rekomendasikan untuk ditilik, terutama bagi kaum adam. Seperti halnya Dewie Sekar, ingin rasanya saya 'mewajibkan' mereka untuk membaca kisah ini.

Note : Buku yang ingin saya baca bertopik Fraud and Examination. Susah sekali nemunya... Untuk buku fiksi, sudah lama saya ingin membaca serial Glam Girls... terlihat menarik namun saya lebih sering mengutamakan buku lain yang lebih penting dan dibutuhkan daripada itu :P


* dengan sedikit perubahan kutipan karena diambil dari salah satu statusnya di socialmedia.

Dalam rangka menyemarakkan pesta  Kita Berbagi seorang calon ibu. (http://cyberdreambox.blogspot.com/2011/04/kita-berbagi.html)

23 comments:

  1. Terima kasih udah mengikuti "kita berbagi"

    Semoga apa yang kita tuliskan selalu dapat memberikan manfaat tersendiri bagi pembaca dan juga berbagi ilmu melalui tulisan lebih digalakkan lagi ^^

    ReplyDelete
  2. nama cewenya ngingetin gw sama dia.... :(

    ReplyDelete
  3. Kalau sudah bunda Asma Nadia yang menulis
    Segalanya terasa indah berurai hikmah :)

    ReplyDelete
  4. wah bagus banget resensinya...suatu hari kalo aku udah bikin buku resensiin juga ya nyin :p
    oh ya, akun fbku kiky rose, kalo twitter Q_cute ^^

    ReplyDelete
  5. wah keren..
    eh, ada award dari aku... diambil ya :)

    ReplyDelete
  6. tidak menentang adanya poligami tapi saya akan memilih tidak dipoligami ^^
    dibuku asma nadia yg isinya kumpulan cerita dari para sahabatnya saya lupa judulnya an.. juga menceritakan bahwa jika pria menikah lagi tidak ada alasan lain yaitu dia memang jatuh cinta :)

    ReplyDelete
  7. wah reviewnya keren sekali mba..
    panjang dan lengkap :)

    ReplyDelete
  8. kisah fiksi yg menyentuh, tp kenyataannya ada beberapa kisah istana kedua yg saya lihat dlm kehidupan sahabat atau teman wanita saya...*_*

    takut,...? karena saya jg seorg istri dan khwtr suami berpaling hati ? itu akan membuat kita lelah....yg terbaik mungkin belajar trus menjadi yg terbaik dan pasrahkan pada Tuhan. Karena hanya DIA yg mampu membolak-balikan hati,,,

    ReplyDelete
  9. udah pernah baca sinopsisnya di t4 lain, tapi pas baca di sini tertarik untuk baca bukunya.... ;)

    ReplyDelete
  10. Detail juga ya.. Reviewnya..
    Salam Kenal Mbak.

    ReplyDelete
  11. nice review, nin....
    pgn download e-booknya ah... :P

    saia jd ingat pembicaraan ttg poligami ini, termasuk membahas ttg kasus aa gym dg teman laki2 saia tempo hari...hihihi

    kelemahan laki2 biasanya kalo pny istri dua, suka lupa pd yg pertama...
    lagipula, koq kesannya tdk puas dg satu org ya?
    hehehe
    untungnya tmn saia itu bkn penganut poligami siyh, tp g tau lg kalo nanti pas nikah dia berubah pikiran lg.... ;)

    ReplyDelete
  12. beh bagus tenan resensinya mbak yu. menang iki mesti

    ReplyDelete
  13. Asma Nadia ya, rasanya sering dengar namanya. Mungkin bisa dimasukkan ke daftar book-to-buy ini hehe..

    ReplyDelete
  14. Buku yg mantap nin...pa kbr skrg?..

    ReplyDelete
  15. kelihtanya buku bagus nie, bisa ta masukin daftar antrian buku yg akan saya beli nie

    ReplyDelete
  16. moga saya bisa sepandai Asma Nadia dalam membuat novel :D

    ReplyDelete
  17. sebagai seorang perempuan saya tidak bisa menerima poligami, diselingkuhi aja sdh sakit banget gimana kalo dimadu. tidaakkkk

    ReplyDelete
  18. Mungkin, dongeng seorang perempuan harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan.
    ......... :(

    ReplyDelete