Thursday, February 2, 2012

Wanita dan Pencapaian

Kapan waktu adik saya sempat cerita soal teman cewek sekelasnya yang berencana selulus sekolah akan menikah dengan pacarnya yang bekerja di salah satu BUMN.
"Padahal dia keras banget sampai anarkis mbak, 'ringan' tangan gitu..."
"He...? Terus kenapa temanmu masih mau?"
"Dia punya cita-cita punya suami kaya mbak..."
"Jangan ditiru ya...," komentar saya pada cerita si adik, setengah menegur.
"Masa muda kamu masih panjang. Ketika kita ada di usia seperti ini memang ada godaan-godaan memiliki rumah tangga cepat-cepat. Karena itu fase yang belum kita lewati. Tapi kamu ada didunia bukan semata-mata untuk senang-senang. Bukan dongeng yang putri menikah dengan pangeran lalu happy ever after. Nggak pernah merasa menderita lagi. Hidup terus berputar dari satu cobaan ke cobaan lain. Kalau mulus terus, bisa jadi dia belum berada dalam kehidupan.
Sekarang kamu dengar pesan ibu dulu, bagaimana kalau kamu cuma mengurus rumah tangga... kemudian suamimu yang tulang punggung keluarga mendadak meninggal? Anakmu masih kecil-kecil. Bagaimana kehidupan kamu setelah itu? Bagaimana jika lelaki yang jadi suamimu tidak setia kemudian meninggalkan kamu yang menjadi istrinya? Bahkan suami yang terlihat begitu mencintai istrinya pun punya potensi menjadi tidak setia. Ada keadaan-keadaan tertentu yang mendorong perilaku demikian, meskipun sebelum-sebelumnya tidak begitu."
Wanita harus punya pekerjaan. Harus. Pesan ibu saya sewaktu beliau masih hidup. Pesan yang bagi saya sangat masuk akal.
Sementara menurut saya pencapaian bukan dalam hal semempesona apa pasangan kita, sekaya dan sebagus apa pekerjaan yang dia geluti.
Pencapaian adalah apa yang berhasil kita peroleh dalam hidup dengan usaha sendiri, entah pekerjaan entah sekolah entah kecerdasan atau malah kekayaan. Bukan diukur dari se'mengkilap' apa pasangan yang berhasil kita peroleh.
~

23 comments:

  1. yang terpenting selama kita baik biasanya sudah alamiah mendapatkan pasangan yang baik, di Al-quran juga disebutkan begitu.. :)

    ReplyDelete
  2. wah saya juga seperti dinasihati :D.
    bagus teh benar, masih punya masa depan :d. Temen saya juga ada yang kayak temen adik teteh gitu T__T

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin asep perlu mengajari dia bagaimana konsep cita-cita yang sebenarnya :P hehe
      itulah pilihan

      Delete
  3. saya setuju mba, itu jg pesan ibu saya hehhehe...wanita harus kerja dan punya penghasilan sndri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ibu ibu seperti itu adalah ibu2 yang berpikiran panjang
      setuju? :D

      Delete
  4. yupp,betul
    aku setuju dengan pesan ibu....

    ReplyDelete
  5. I agreed.
    Dengan bekerja, kehidupan lebih 'aman' untuk ke depannya. Belum tentu pria akan hidup selamanya.

    Tapi juga seharusnya, perempuan tidak bekerja lebih berat daripada suaminya. Lebih kepada berjaga dan pekerjaan yang ringan saja.

    ReplyDelete
  6. dan..
    setiap laki-laki pasti bakal segan kalau berhadapan sama perempuan mapan.

    dan yg melamarnya pun pasti setidaknya tau diri dan berpikir "saya setidaknya harus lebih atau nggak sejajarlah, baru berani buat ngelamar".. :D

    ReplyDelete
  7. setuju dg pesan ibumu, An. dulu mamaku juga bilang gitu. masa udah kuliah cape2 langsung kawin. wanita itu gak harus di rumah mulu dan kawin bukan satu2nya tujuan wanita.

    ReplyDelete
  8. semoga suami saya seganteng brad pit
    sekaya bakrie
    dan sebaik tommy kurniawan :3
    nyehehehe

    maak kapan kau ke kosanku? sudah sore ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku nongkrong depan laptopmu sewaktu membalas komen gejemu ini

      Delete
  9. aku paham dgn wanita yang ingin bekerja, namun harus ingat kewajibannya sebagai ibu rumah tangga

    krn itu carilah suatu cara yg baik yang tidak melampui batas, pekerjaan dapat - keluarga bahagia, 'kan enak :)

    ReplyDelete
  10. ya ampuuun -___- kebahagiaan kan letaknya ga hanya pada materi doang.. semoga cewe yg nikah dengan cowo yg ringan tangan itu baik-baik aja..

    ReplyDelete
  11. bukan setuju karena saya laki2, sehingga wanita harus bekerja. Minimal dengan bekerja akan mengurangi kebosanan aktivitas yg itu2 saja (sumur, dapur, kasur) dan manfaat lebihnya tentu banyak.

    ReplyDelete
  12. Siti Khadijah ra itu pedagang yang sukses. Aku suka gemes dengan pendapat orang, semakin sholehah semakin ngumpet di rumah

    ReplyDelete
  13. kalo menurutku cewek itu bukan pencapaian diatas...
    tetapi harus cantik dan keibuan
    #lho kok malah

    cewek itu bisa cari penghasilan sendiri, dan tau dunia luar... statement ini bakalan terbukti kalau sudah berkeluarga..

    ReplyDelete
  14. inikah yang dimaksud kesetaraan gender. . .

    ReplyDelete
  15. Ibu saya juga selalu pesan agar saya tetap kerja biarpun sudah menikah kelak. Alasannya ya biar leluasa menggunakan uang karena uang sendiri. Mau beli baju, mau ngirim uang buat orangtua gak ribet karna gak perlu minta suami.
    Dan bagi saya, pekerjaan adalah harga diri. Biarpun penghasilan tak seberapa, saya tetap punya harga diri karena bisa memenuhi kebutuhan tanpa bergantung pada orang lain.

    ReplyDelete
  16. ibu saya juga berpesan seperti itu.

    seorang istri akan merasa lebih dihargai suaminya ketika dia punya pekerjaan dan gak hanya bergantung pada suami.

    bener dech apa kata ibu saya itu.

    ReplyDelete
  17. Kalau menurut saya yang penting tidak menyalahi kodrad. Kodratnya wanita adalah ibu rumah tangga, dan bapak adalah kepala rumah tangga. Soal bekerja atau tidaknya ibu rumah tangga tidak menjadi masalah kali ya hehe...

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...