Sunday, March 18, 2012

Pantulan Waktu

Seperti cermin,
kadangkala apa yang kita lakukan
akan terpantul pada diri kita sendiri

(pic taken from Blueberrypie's mim)
Jadi jadi.... kapan waktu saya sempat ditelepon teman. Teman yang dulunya pernah sangat dekat sampai curhat soal banyak hal. Tentang kehidupan kampus, emosi dan percintaan. Yah sebenarnya tidak lebih dari itu, hati saya bilang saya tidak boleh cerita soal yang lain-lain. Kami belum sedekat itu. Saya tidak tahu kenapa mendadak dia pengin curhat sama saya via telepon.

Karena saya rasa lebih banyak orang yang punya kedekatan emosi lebih dalam buat dia, daripada saya. Terutama pada masa-masa akhir kami bertemu sih. Kami pernah tinggal dalam satu lingkungan yang sama dulu. Dan kali itu dia cerita bahwa dia stress, banyak konflik karena dia bekerja sambil juga tinggal di rumah saudaranya yang sudah berkeluarga. Ada saja konflik dengan orang-orang yang rumahnya dia tumpangi itu. Sampai-sampai dia bilang dia suka jalan-jalan kemana-mana sendirian, merasa butuh me time. Dia bilang dulu dia meledek saya karena saya suka kemana-mana jalan sendirian, sekarang dia pun begitu.

Saya senyum.
Kendati diantara sebagian besar teman kos yang suka menggelar rapat dan membicarakan saya dibelakang, dia paling baik dimata saya... dia masih mau berakrab dengan saya, menolong saya atau pergi-pergi bareng saya dengan tulus. Tapi saya tahu dia terlibat dengan semua pembicaraan dan rapat-rapat tidak penting itu. Saya ingat suatu waktu saya pernah menegur Mbak kos saya karena kata-katanya yang kasar merujuk pada orang tuanya. Dia jadi lama pulang kampung karena Papanya harus tugas keluar kota dan dia mesti dirumah menemani Mamanya. Mbak kos saya itu diam, anak-anak kos mendadak diam. Dia masuk kamar kemudian segera update status socmed tentang mulut yang nggak bisa dijaga. Dalam hal ini maksudnya mulut saya. Mulut saya yang menegur dia karena dia sudah ngomong kasar, meskipun jika maksud dia bercanda. Pada orangtuanya yang begitu baik.

Karena di nggak enakin lama-lama jadi kemudian saya minta maaf. Tidak tahunya bahwa mbak kos saya itu lah pemicu dirapatinnya saya dikosan. Sebagaimana manusia yang punya rasa jengkel, saya sedikit menyesal karena telah minta maaf padahal dalam hal ini sayalah yang dijahati. Meskipun dalam hal ini saya masih berpikir bahwa dengan saya bilang seperti itu saya tidak salah. Mbak kos saya itu punya keluarga baik, penyayang dan sangat memperhatikan dia. Sangat care, kadang-kadang mereka menjenguk dia... atau memberikan fasilitas-fasilitas yang tidak semua orang bisa miliki. Dengan orang tua yang semacam itu dia bisa ngomong kasar dibelakang mereka? Mbak kos saya jelas tidak tahu bagaimana harus bersyukur karena banyak orang lain ditakdirkan punya keluarga yang tidak stabil, serta tidak menyenangkan.

Kembali ke teman saya yang menelepon saya tadi... entah... saya merasa kasihan dengan keadaannya yang demikian tapi juga merasa senang disatu sisi. Baguslah... karena dia sudah tahu rasanya bagaimana dijahati maka nantinya dia tidak akan lagi sembarang menyakiti perasaan orang dibelakang punggung. Karena dia sudah tahu rasa sakit dan merasa sendirian maka dia akan berpikir berkali-kali jika akan melakukan hal yang sama pada orang lain lagi dimasa depan. Hal-hal yang pernah saya rasakan dulunya karena mendadak merasa tidak lagi sesuai dengan teman-teman satu rumah.
Mudah saja bagi kita untuk menyakiti seseorang karena kita tidak tahu bagaimana rasanya. Namun kita tidak terus hidup pada roda atas. Entah kapan waktunya, kita mungkin juga akan memetik pelajaran itu. Bukan karena siapa membalas siapa... saya pikir, tapi lebih karena kita sendiri yang menanam maka kitalah sendiri orang yang pada akhirnya akan memetik hasil.
 ~

22 comments:

Mr. Nya' said...

Tiada terlupakan orang2 yang telah mengerti dan memberi perhatian pada kita, sebanding juga terhadap orang-orang yang menorahkan sejarah pada perasaan dan emosi kita.
Gitu mungkin Nin. Happy Blogging

Anonymous said...

sepertinya sudah manusiawi ya, hampir rata2 orang tuh kalau belum bener2 ngerasain sendiri belum bisa memahami dengan benar. hidup memang beragam, apa yang bagus juga buruk bisa bercermin lewat diri sendiri atau orang lain di lingkungan sekitar :)

Ririe Khayan said...

siapa yg menanam angin dia akan menuai badai..tp yg serba gak enak jika kita tanpa sengaja membuat orang lain tersinggung. Perbedaan persepsi dan paradigma, bisa jd sumber deviasi dlm menanggapi sesuatu (kata/kalimat/sikap)...

Annesya said...

maak aku hari ini tes wawancara... atuttt... #eeaa

Arif Chasan said...

bukan soal balas dendam..
tapi emang kitalah yg menanam.. :))

mbak nin kereeen... :D

eh btw, gimana hasil tes kerjanya?
udah berada di roda atas kah? :)

Meriskapw said...

aku jg pernah diomongin di depan kamarku sendiri.. padahal aku ada di dalem..! gara2 aku gak pernah keluar kamar buat ngobrol2 *maklum pemalu, hha*.. udah gtu ngomonginnya pake iiiihhh nada sinis plus jijik gtu.. perih banget periiih.. wkwkwk

sekarang udah biasa aja.. apalagi aku bru menemukan kenyataan bahwa si A dan si B ngomongin si C, eh si B sm si C ngomongin si A.. lucu!

Unknown said...

Seperti petuah orang tua jaman dulu ya " Semua kelakuan jahat akan dibales dengan yang setimpal begitu juga sebaliknya "
Aku juga pernah mengalami hal kaya begitu,bahkan 2 kali resign kerja karena ulah orang kagak bertanggung jawab yang kurang suka dengan kelakuan sopan & rajin kita

Unknown said...

ya intinya siapa menabur badai ya akan menuai badai ya.

Unknown said...

keren ..:)

Michael Angelo said...

itulah waktu. kita gak akan pernah tau kpn waktu meninggalkan kita. atau pun kita yg meninggalkan waktu.

Aul Howler's Blog said...

setuju sama paragraf terakhir...
:)

keep spirit n' istiqamah kak!

Tabah said...

seperti dalam pepatah bilang. . . siapa yang menanam dialah yang akan memetk. . .

so tanamlah kebaikan maka kita akan memetik kebaikan juga. . . .

Bisma said...

Hehe, manusia tiada yang sempurna, ini sesuatu yang akan kekal hingga akhir jaman,
tapi ingat hukum tabur tuai, siapa menebar benih padi, dia akan panen padi. menebar benih jagung dia akan panen jagung.
maka dari itu walaupun susah, cobalah untuk terus memberikan hal yang positif dan baik. dengan harapan kita nantinya juga akan mendapat hal serupa .

maaf lho ya klo saya sok tahu. tapi ada gunanya juga intropeksi diri juuga.


“komentar yang barusan anda baca hanya bersifat opini, jika tidak pas dengan anda anggaplah angin lalu saja, terima kasih :D”

Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" said...

baguuuus niin... udah jadi tong sampahnya buat dia aja, menurutku kamu udah baik lho... hehhehhe.... palagi kalo kamu kasih beberapa saran atau support... :))

vie_three said...

shock bacanya, ini namanya karma bukan???

aku udah melihat bermacam-macam karma yg terjadi disekelilingku. baik pada diriku sendiri, maupun pada orang-orang terdekatku.

Ria Nugroho said...

dibicarakan dibelakang memang gak enak rasanya :(
sabar ya nin ;)

Anak Rantau said...

Bener nin, hukum sebab akubat akan berlaku juga di kehidupan sosial kita.

Ayu Welirang said...

boomerang dan semacamnya-kah?

non inge said...

Nah... hal yang terjadi pada kitapun bisa menjadi bahan intropeksi diri yak... jika sesuatu yang mungkin tidak berkenan terjadi pada kita disebabkan oleh orang lain, mungkin salah satu sebabnya adalah dulu kita pernah melakukan hal yang sama... :D

Ninda said...

ya mbaaak... mungkin saja :D
mungkin juga tidak... nah kalau tidak berbuat tapi disakiti itu namanya cobaan :D hehe

Ninda said...

heheheeee masih berusaha berlari rif...
banyak tes yang still running...
lama nunggu hasilnya :)
doakan sajalah

Ninda said...

memang begitu kok meeerrr
sebenarnya nggak apa-apa kok
asal kalo temen kita ada yang salah ya ditegur baik2...
jangan didiemin dan digosipin tok
itu bukan teman yang baik :)

Previous Page Next Page Home