Showing posts with label gumaman hati. Show all posts
Showing posts with label gumaman hati. Show all posts

Tuesday, February 28, 2017

THE CHRONICLES OF COFFEE SHOP


Mengapa kunjungan ke coffee shop selalu menarik?
Hampir setiap kesana kita akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Berapa banyak populasi manusia di sebuah kota dan seberapapun mereka biasanya lebih memilih tempat lain untuk dikunjungi pada waktu, hari dan kesempatan yang lain. Saya yang bisanya termasuk cukup mudah mengingat wajah orang, menyadari bahwa saya selalu bertemu dengan pengunjung yang berbeda setiap kali berada di coffee shop.

Suatu kali nenek-nenek dan cucunya yang masih balita.
Kali lain seorang guru sekolah swasta yang sedang sibuk memeriksa hasil ujian murid-muridnya dalam lembar-lembar kerja yang berada setumpuk di hadapannya.
Kali lain lagi, sepasang laki-laki dan perempuan yang duduk satu meja seperti sudah saling mengenal namun tidak ada pembicaraan bahkan tidak ada gestur keakraban.
Barangkali mereka baru saja bertemu setelah perkenalan yang dirancang oleh teman mereka atau berkenalan melalui media sosial. dulu orang menyebutnya kopdar alias kopi darat.
Obrolan yang awkward terdengar dari meja belakang punggung saya antara dua orang yang baru bertemu setelah beberapa waktu saling mengenal melalui aplikasi chat messenger dan penghuni meja lain adalah sepasang kekasih yang tidak saling bicara satu sama lain karena sedang bertengkar.
Pekerja paruh waktu yang baru masuk di coffee shop yang masih cenderung kikuk melayani pesanan minuman dan menghadapi pelanggan. Barista yang memperhatikan pengunjung tetap yang selalu memesan varian minuman yang sama, ukuran yang sama dan tambahan yang sama.

Wednesday, January 18, 2017

DI MASA DEPAN


Mengapa hidup mendadak bisa berubah diluar apa yang kita duga selama ini?
Mengapa sekali dia berubah, perubahannya bisa sedemikian cepat dan mengejutkan?
Akhir-akhir ini saya sering memikirkan tentang itu, mungkin banyak orang selain saya yang mempertanyakan hal yang sama.

Contohnya saja ketika usia sekolah dasar, mungkin karena hidup di desa dimana penduduknya nggak padat, jarang menggunakan kendaraan bermotor dan sebagainya sehingga kebanyakan orang menurut saya relatif memiliki usia yang panjang dan kondisi kesehatan yang baik. Jarang orang meninggal secara tiba-tiba kecuali jika memang sudah lama sakit parah.

Itulah mengapa saya merasa tidak biasa dengan berita-berita teman yang tidak dapat masuk sekolah karena kecelakaan lalu lintas, mengalami pergeseran bahkan juga patah tulang saat saya SMP. Adalah hal yang baru bagi saya alasan tidak masuk yang seperti itu, meskipun benar terjadi.

Wednesday, May 15, 2013

Daily Babbling

Setiap ada jeda agak lama mengisi blog saya selalu bingung mau cerita apa... padahal biasanya juga banyak yang pengin saya ceritakan. Exclude review-review kecil soal buku dan drama yang saya tonton.

Hemmm.... okeeee.... Sudah Mei dan hari kepindahan saya semakin dekat. Minggu depan saya harus kembali lagi ke ibukota untuk perjalanan dinas.
Aneh, segala sesuatu terasa jadi melankolis.
Sedikit orang yang menyenangkan di kantor. Kumpulan manusia unik di lapangan.
Seperti harta karun.
Karena terus terang kualitas manusia bisa dirasakan dari sisi kesehariannya, atau ketulusan dari feedback yang dia berikan kepada kita.
Saya menghindari manusia non-tulus, bukan karena apa... saya cuma malas berkonflik. Dan saya bukan tipikal cinderella atau bawang putih yang disiksa tapi bisanya cuma diam-diam saja.
Manusia ditakdirkan untuk berusaha dan survive dalam hidupnya sendiri. Bukan untuk merunut arus, diam kemanapun arah air sungai atau angin akan membawa.

Manis yang kelewat manis itu jadinya eneg. Penginnya dilepeh, nggak pengin ditelan.


Pinned Image
source: here


Friday, March 1, 2013

Apa Boleh Buat.

Kapan waktu saya sedang centil, padahal cuma keluar tidak jauh dari kos bersama teman-teman perempuan. Agak lebih dandan dari biasa, antara centil dan sekalian memakai alat-alat dandan saya yang seringnya cuma kepakai ke acara nikahan atau acara formal lain. Nggak banyak sih cuma maskara, eye liner putih dan lip balm. Teman saya cuma memakai baju khas nyari makan, meskipun waktu itu perginya ke cafe.

Mereka melongo dan ngegodain saya karena sudah berdandan secantik itu tapi cuma terpakai buat makan malam bareng mereka.
Salah seorang teman ngomong, dia baru tahu saya bisa secantik itu kalau mau repot-repot sedikit. Si bilang dia baru mengerti apa sebab seseorang itu tertarik pada saya.
Yang adalah salah.

Dia bahkan masih tertarik meskipun saya dalam keadaan tidak mandi seminggu, tidak keramas dan bahkan kaki saya bergips. Meskipun wajah saya bergoretan luka atau alergi saya kambuh dan saya mirip patrick star karena bengkak dan berwarna merah muda di sekujur tubuh. Meskipun saya merengek seperti anak lima tahun karena tidak bisa tidur di rumah sakit karena kepanasan, antara udara kota yang panas... AC yang tidak mempan berpadu dengan kulit yang tidak tersentuh air mandi berhari-hari.

Dia memenuhi sebagian besar contoh nyata yang bisa saya definisikan tentang kebaikan hati.
Jadi kalau bahkan saya tidak tahu spesifiknya sekarang dia ada dimana, apa yang dia lakukan... bagaimana saya bisa tidak rindu?

Meskipun untuk mengutarakan rindu pun juga bukan sesuatu yang mudah.
Apa boleh buat.

Monday, January 21, 2013

Surabaya Sky

What a beautiful sky picture taken from phc hospital.
I'm sick, I'm all alone... without any family member around me.
But it's okay.
Everyone at the hospital keep asking me, patient... nurse... why I'm alone? I know they're wondering why my family isn't there?
I smiled.
It's okay.... there is so many doctor and nurse at this place taking care of me. I'll be just.......... okay.
On the top of everything, Allah even closer than veins.

Thursday, January 10, 2013

Semacam Pelajaran Wajib

Pernah kemarin itu, saya pulang ke kosan dalam keadaan capek banget. Di kediaman yang punya kosan di lantai bawah padahal rame ada acara pengajian gitu sama kumpul keluarga. Saya langsung ke lantai dua ke ruang tv area kosan. Terlalu lelah untuk berinteraksi.
Saya ke atas, ke area yang dikoskan oleh empunya rumah... bengong nonton tv dengan suara minimum, masih pakai baju kantor, masih malas. Blackberry udah main tang-ting tanda email kantor inboxnya kebanjiran. Sekilas saja saya periksa satu-satu. Masih pegang smartphone gitu ya, Mendadak ada gerabak-gerubuk anak kecil naik ke kos.
"Tanteeee...." mereka manggil-manggil.
"Ya?"
"Ini dari uti... tadi si x ultah nih makanya ada kue-kue kotakan gini,"
"Ooohhh... heheee iya makasih ya...." saya bagi-bagi senyum ke mereka semuanya.
Salah satu dari anak kecil bergerombol itu ngelihatin benda di tangan saya, bertanya centil. Entah bagaimana pertanyaannya seperti keluar dari remaja SMA, "PINnya berapa, te?"
"Heh?" Jidat saya berkerut, "emang ngapain nanya-nanya?"
"ya aku kan juga punya BB te... hehe,"
"Terus kenapa gitu kalau kamu punya BB?"
"Ya kan bisa BBM an... nih BB ku..."
Tanpa terkontrol mulut saya nyeblak, "lah ngapain juga kamu punya... kayak yang beneran butuh aja... paling main internet sama bbm. Umuran kamu sebenarnya belum butuh... tante aja punyanya pas kerja. Dih yaudah sana deh main..."
Padahal saya ya ngomongnya sama anak kecil, cuman lagi sensi aja sih sambil ngomel...
Saya nggak ngerti, barangkali orang tua jaman sekarang didikannya sudah dengan cara yang berbeda. Atau emang didikan yang saya terima aja yang demikian ya?
Saya nggak pernah memperoleh sesuatu dengan mudah.
Meskipun ponsel.

Dari kecil saya sudah matre, mendayagunakan apapun yang saya bisa untuk mendapatkan uang. Ya menari tradisional di pernikahan... ya menyewakan buku-buku bacaan dan majalah saya waktu kecil, mengumpulkan kacang di ladang buat dijual. I do so many things to make a money and buying something. Sama halnya dengan ponsel pada waktu sma. Anak seusia saya hpnya sudah pakai kamera, bisa muter mp3.... saya cuma harus puas dengan ponsel buluk yang suaranya bahkan masih monophonic. Beli sendiri dari hasil nabung selama ini, dikasih tambahan dikit sama orang tua. Bahkan beli pulsanya sendiri saya sering menahan diri untuk nggak jajan selama jam sekolah. Tidak peduli saya punya prestasi sebesar apa, saya harus usaha untuk membeli sesuatu yang saya inginkan diluar kebutuhan sekolah. Meskipun saya pernah menang lomba siswa teladan ataupun lomba mata pelajaran. Apapun itu. Saya bahkan harus rela nggak jajan buat beli majalah bobo ketika masih duduk di sekolah dasar.

Dulu saya sering protes pada ibu saya, kenapa saya punyanya cuma ini..... kenapa anak itu punya banyak dan bagus... padahal dia standar di kelas, tukang nyontek pula. Apa yang ibu saya lakukan kemudian? Nyuekin protesnya saya.
Jadi sekarang saya cuma bisa nyengir bingung melihat anak-anak jaman sekarang yang pegangannya sudah ipad aja... atau tablet? Bagaimana cara mereka bisa menghargai dan merawat sesuatu yang mereka miliki kalau mereka tidak tahu bagaimana rasanya perjuangan untuk mendapatkan itu?

Sampai sekarang saya masih berpendapat, sejak kecil seorang anak sudah harus sering belajar menerima bahwa tidak semua yang dia mau bisa dia dapatkan. Tidak semua yang teman-temannya punya sama artinya dengan dia bisa mendapatkan hal yang serupa. Selepas dari kebutuhan wajib seperti sekolah mereka, misalnya...

gambar diambil acak dari Google

Friday, December 14, 2012

@TheRightPlace (?)

Bagaimana kita tahu sesuatu itu sudah tepat dan pada tempatnya?
Bagaimana kita bisa tahu bahwa sesuatu itu belum tepat dan belum pada tempatnya?
Waktu?
Bagaimana kalau mau tahunya sekarang tanpa harus menunggu waktu terlebih dahulu?


Bagaimana?

gambar diambil random hasil pencarian Google

Friday, October 12, 2012

Kepemilikan Rasa

"Kamu tuh nggak tahu kayak apa aku sayang sama kamu sejak kamu disitu sampai sekarang. Kamu tuh nggak tahu..."
"Itu dia masalahnya Gas... aku nggak pernah bener-bener tahu.Tapi aku sadar akan satu hal, kamu nggak sesayang itu sama aku."
Iseng saya mendengarkan playlist berisikan lagu-lagu lama. Sempat tertegun lama karena dialog ini ada di sala satu lagu milik Peterpan untuk OST Alexandria.
Saya bertanya-tanya apa yang melatari tokoh utama perempuan menyatakan dialognya ya?
Apakah dia menemukan sesuatu yang ternyata bukan rasa sayang yang sebenarnya dari diri si tokoh lelaki.
Apakah itu obsesi untuk memiliki? Ataukah tendensi?
Barangkali puncak tertinggi dari keagungan hati adalah cinta yang bisa melepaskan dan membebaskan, tanpa tendensi. Cinta penuh kerelaan tanpa mengenal arti balasan yang sepadan. Atau harapan yang demikian, memperoleh hal serupa atau lebih dengan apa yang diberikannya.
Tapi dalam dunia ini, barangkali cuma khayalan yang mengenal jenis cinta yang demikian. Atau secara actual, orang yang tidak sepenuhnya membuka mata pada realitas.

Friday, June 8, 2012

The Old Soul

Someday you'll know what I see
(pic taken random by google)
Waktu sempit sekali sekarang ini, saya tidak sabar untuk relaksasi ala saya yaitu tidur lama di weekend... serta blogwalking... lama juga tidak blogwalking dan saya rindu.
Saya berada diantara orang-orang yang menganggap saya tidak cukup dewasa, bahwa kelakuan saya anak kecil banget dan saya juga sangat perhitungan terutama menyangkut biaya hidup. Saya cuma ketawa bodoh, membiarkan mereka berpikir seperti itu. I always look so cheerful.

Sebenarnya merekalah yang bersikap seperti anak kecil tapi tidak menyadari itu. Meskipun dari luar saya kelihatan seperti ini, the truth is... saya jauh lebih matang ketimbang mereka. Mereka yang hidupnya sebenarnya seperti orang normal pada umumnya. Tidak banyak goncangan, atau goncangan besar sekali dua kali kemudian berjalan normal. Mereka yang tidak pernah hidup susah mana punya pikiran untuk meminimalkan kesenangan demi untuk sesuatu yang benar-benar butuh saja.

Saya masih muda katanya, nggak perlu terlalu banyak perhitungan pengeluaran... kapan lagi waktunya, nanti kalau menikah sudah nggak bisa senang-senang pakai uang sendiri. Tapi saya nggak cuma menyimpan uang buat diri saya sendiri. Ah sudahlah, tidak penting juga buat mereka untuk tahu segala latar belakang kelakuan saya.

Segala hal tidak sesimpel itu bagi saya, barangkali sejak saya kecil. Mereka tidak tahu bagaimana saya menjalani hidup saya, bagaimana saya survive... saya yakin mereka bahkan tidak pernah kepikiran apapun mengenai hal-hal yang mungkin saya alami. Mereka terlihat dewasa tapi tidak cukup matang bagi saya, mereka yang tanpa sadar suka ngotot sendiri dan berisiknya bikin kepala saya penat... tapi berbelit-belit sekali. Kepala saya pekat dan akhirnya saya memutuskan untuk diam dan tidak terlalu banyak ikut campur. Mereka sibuk showoff terkadang. Sejujurnya saya tidak butuh itu, saya tahu mereka orang-orang pintar kok. Saya diam, waktu membuat jiwa saya jauh lebih tua dari usia saya. Satu hal yang tidak terjadi pada mereka yang pertumbuhan jiwanya mengikuti usia atau barangkali malah terlambat jauh dari usia mereka.

Salah satu sahabat saya bilang saya cuma perlu menunggu, mereka akan tahu sendiri pada waktunya... ketika kedewasaan mereka sudah setingkat dengan saya saat ini. Mereka masih bilang saya kayak anak kecil, it's okay... itu hanya sebagian dari diri saya. Belum darkside-nya }:-)

Thursday, April 12, 2012

Memperhitungkan Langkah


pic taken random by google
Saya baru dapat telepon dari orang tua teman adik saya yang sedianya mau ngekos bareng adik saya untuk bimbingan. Beliau bilang katanya habis survey tempat dan penginnya memindahkan anaknya ditempat lain yang lebih dekat dengan alasan 'nggak tega'. Ngomongnya panjang dan berbelit-belit khas orang tua kebanyakan yang mau menyampaikan maksudnya. Dia pengin membawa adik saya juga ikut pindah bareng anaknya. Biar mereka bisa bersama-sama katanya.

Saya bilang alasan saya menempatkan adik saya disitu karena biaya kos yang bisa dibilang murah, fasilitas yang lumayan, dekat tengah kota dan kemudahan akses, dekat warung-warung makanan dan terutama karena saya bisa dengan mudah mengunjungi dia nanti. Saya bilang pula saya sudah pernah ikut bimbingan di tempat yang sama dan tahu bagaimana kelemahan-kelemahan ngekos disekitar sana. Mahal, suka susah air, sepi, susah mencari tempat makan dan akses kemana-mana yang sulit. Pendaftaran SPMBpun juga di dekat tempat kos yang sudah saya booking itu, ada sahabat saya juga yang sudah lama di Surabaya jadi juga bisa ditanya-tanyain. Waktu itu saya masih mending karena Ibu Bapak kos saya superbaik. Tidak sama dengan Ibu Bapak kos kawan-kawan lain yang mayoritas bermasalah. Sementara Bapak-Ibu kos saya yang dulu sudah tidak lagi membuka tempat kos.

Si ibu berkata biar dekat, tinggal nyabrang saja, saya mbatin nyabrang disitu susahnya bukan main. Dan lama. Beliau bilang biar anaknya ngekos dekat 1 bulan, nanti kalau sudah diterima baru dia ngekos dekat kampus dan tirakat cari murah. Setengah terharu karena ada seharian tahu ada banyak orang tua yang begitu perhatiannya pada anak sampai mensurvey wilayah kosnya dan sebagainya dan sebagainya. Salah satunya beliau juga bilang kalau si anak susah kalau berangkat kudu siap-siap dulu pasti lama mungkin telat jadi dicarinya yang dekat. Saya malah mbatin, maka dari itu kan kebiasaan yang seperti itu perlu diubah sewaktu hidup mandiri, berjauhan dari tempat menuntut ilmu? Hehehe... yasudahlah, anak-anaknya ini.

Saya sudah berusaha menyampaikan pertimbangan. Dan saya yakin bagaimanapun ibunya tidak tahu sebaik saya, mengingat saya pernah ngekos didaerah sana selama 3 bulan dan ya begitulah. Susah akses kemana-mana, sering menahan lapar di malam hari karena nggak ada makanan lewat yang bisa dibeli. Saya sering sakit perut karena malam. Mau daftar SPMB juga kudu ngintil dulu ke teman lain sekolah yang tahu arah. Selain itu nggak kemana-mana. Makanya itu saya penginnya adik nggak kos dekat sana. Lebih banyak minus dibanding plus. Terutama karena bukan daerah kampus, biaya kosnya super mahal. Jaman saya atau 4,5tahun yang lalu saja perorang 300ribu sekalipun kamarnya keroyokan. Apalagi sekarang kan ya?

Ini pikiran pribadi saya sih, cuma saya pikir orang tua semestinya tidak terlalu memfasilitasi anak dengan fasilitas super ketika mereka dalam persiapan ujian besar seperti halnya SPMB. Biasanya yang fasilitasnya terlalu mewah seperti salah seorang guru SMA saya yang heboh bilang anaknya dimasukkan ke paket paling mahal, dengan asrama dan fasilitas memanjakan lainnya sampai dia cuma kudu mikir belajar ke salah satu jurusan favorit. Malah tidak diterima.
Ealah sudah terlanjur pamer gitu kan padahal...
Yah namanya juga perjuangan :)


Yah namanya juga pengin posting, meskipun gak jelas pengin menyampaikan apa... ya tetep aja posting :3 *selfnote*

Saturday, April 7, 2012

Senyum Diam-diam


cover versi asli *bukan tarjemahan*, cute...
(pic taken random by google)
Beberapa minggu lalu saya beli buku dari tempat obralan murah, senang harganya sekitar IDR 5-15ribu ajah. Jadi saya pulang bawa 4 buku yang semuanya total harga 32.000. Kalap, segitu saja saya sudah menyaring sedemikian banyak yang pengin saya beli. Padahal saya masih pengin buku anak-anaknya Jaqueline Wilson.

Salah satu buku yang saya beli teenlit tarjemahan, mengenai remaja palestina-muslim yang tinggal di Australia dan memutuskan memakai kerudung disana. Dia menghadapi berbagai interaksi dan reaksi yang berbeda-beda, banyak yang memandang aneh atau sinis, tidak sedikit juga yang menghargai. Sudah lama kepingin baca buku ini tapi dulu harganya mahal sekali di toko buku yang nongkrong di mall. Akhirnya dapat juga. Yah tahu sendiri bahkan kita di negara sendiripun masih suka bermasalah dengan perusahaan karena masalah kita yang memakai jilbab. Picik kan? Ya sudah saya cuma berusaha yakin dengan menjaga kerudung seperti kewajiban yang lain akan ada ganti yang lebih baik.

Seorang teman baik yang tahu saya barusan beli buku melihat-lihat dan menemukan teenlit itu diantara buku-buku yang saya beli, reaksinya lebih seperti negatif.
"Kok bukunya soal cewek pakai jilbab gini? Aku nggak suka cewek jilbaban."
Saya yang sedang tidur-tiduran menuhin kasur sedikit kaget, membatin... lah saya kan juga kerudungan. Dia lagi mangkel sama saya gitu? Atau apa?
"Kenapa memangnya?"
"Ya sebel aja, aku dikalahkan sama cewek jilbaban." dia kemudian tersenyum tidak nyaman, mungkin karena baru ngeh kalau saya salah satu diantara cewek-cewek itu atau entah bagaimana dan juga menggumam nggak jelas, yang sampai ke pendengaran saya sepertinya ini berkaitan dengan hubungan percintaan. Yang saya tangkap begitu, dia merasa karena seseorang lebih memilih cewek berjilbab ketimbang dia jadi dia mangkel.
"Ah itu sih berkerudung saja kok... beda lho jilbab sama kerudung," saya nyeletuk.
"Beda ya...?"
"Ya dong, jilbab itu sebenarnya bajunya... kerudung ya yang buat kepala itu..."
"Oh gitu..." dia diam.
Saya juga diam dan tersenyum dalam hati. Dilema. Mau ngomong juga khawatir dia tidak bisa menerima. Yasudah, saya malas berdebat. Teman baik saya yang ini rajin mengaji dan bacaannya bagus, dia juga baik hati... cuma buat saya dia belum mengerti arti kerudung itu sendiri. Entahlah, menurut saya itu lebih baik daripada kerudungan tapi lengan bajunya cuma sebatas siku (promosi?).

Itu pandangan biasa.
Saya juga pernah ada dalam masa-masa seperti itu. Masa-masa penyangkalan dan suka jutek sendiri kalau penilaian orang-orang terhadap cewek berkerudung seperti nggak berimbang dibandingkan cewek tanpa kerudung. Meskipun dalam keseharian cewek tanpa berkerudung malah lebih rajin menjalankan macam-macam ibadah. Demikian juga dengan salah seorang sahabat saya yang dulunya kemana-mana pakai celana tapi sekarang malah bahkan nggak punya celana. Pakaiannya rok semua. Biasanya orang yang sudah dalam tahap benar-benar mengerti memang lebih serius menjalankan pengertiannya ketimbang cuma yang setengah-setengah sekadarnya.

Saya membalikkan badan dan memejamkan mata, kelelahan. Berpikir untuk tidak memperpanjang bahasan itu. Perangai kawan baik saya itu bukan tipikal orang yang mau dibilangi, jadi nanti pada waktunya dia toh juga akan mengerti sendiri. Cuma soal waktu.
Waktu dia bisa mengerti bisa jadi lebih lama ketimbang saya ataupun sahabat saya yang rokmania.
Saya senyum, senyum diam-diam.

Sunday, March 18, 2012

Pantulan Waktu

Seperti cermin,
kadangkala apa yang kita lakukan
akan terpantul pada diri kita sendiri

(pic taken from Blueberrypie's mim)
Jadi jadi.... kapan waktu saya sempat ditelepon teman. Teman yang dulunya pernah sangat dekat sampai curhat soal banyak hal. Tentang kehidupan kampus, emosi dan percintaan. Yah sebenarnya tidak lebih dari itu, hati saya bilang saya tidak boleh cerita soal yang lain-lain. Kami belum sedekat itu. Saya tidak tahu kenapa mendadak dia pengin curhat sama saya via telepon.

Karena saya rasa lebih banyak orang yang punya kedekatan emosi lebih dalam buat dia, daripada saya. Terutama pada masa-masa akhir kami bertemu sih. Kami pernah tinggal dalam satu lingkungan yang sama dulu. Dan kali itu dia cerita bahwa dia stress, banyak konflik karena dia bekerja sambil juga tinggal di rumah saudaranya yang sudah berkeluarga. Ada saja konflik dengan orang-orang yang rumahnya dia tumpangi itu. Sampai-sampai dia bilang dia suka jalan-jalan kemana-mana sendirian, merasa butuh me time. Dia bilang dulu dia meledek saya karena saya suka kemana-mana jalan sendirian, sekarang dia pun begitu.

Saya senyum.
Kendati diantara sebagian besar teman kos yang suka menggelar rapat dan membicarakan saya dibelakang, dia paling baik dimata saya... dia masih mau berakrab dengan saya, menolong saya atau pergi-pergi bareng saya dengan tulus. Tapi saya tahu dia terlibat dengan semua pembicaraan dan rapat-rapat tidak penting itu. Saya ingat suatu waktu saya pernah menegur Mbak kos saya karena kata-katanya yang kasar merujuk pada orang tuanya. Dia jadi lama pulang kampung karena Papanya harus tugas keluar kota dan dia mesti dirumah menemani Mamanya. Mbak kos saya itu diam, anak-anak kos mendadak diam. Dia masuk kamar kemudian segera update status socmed tentang mulut yang nggak bisa dijaga. Dalam hal ini maksudnya mulut saya. Mulut saya yang menegur dia karena dia sudah ngomong kasar, meskipun jika maksud dia bercanda. Pada orangtuanya yang begitu baik.

Karena di nggak enakin lama-lama jadi kemudian saya minta maaf. Tidak tahunya bahwa mbak kos saya itu lah pemicu dirapatinnya saya dikosan. Sebagaimana manusia yang punya rasa jengkel, saya sedikit menyesal karena telah minta maaf padahal dalam hal ini sayalah yang dijahati. Meskipun dalam hal ini saya masih berpikir bahwa dengan saya bilang seperti itu saya tidak salah. Mbak kos saya itu punya keluarga baik, penyayang dan sangat memperhatikan dia. Sangat care, kadang-kadang mereka menjenguk dia... atau memberikan fasilitas-fasilitas yang tidak semua orang bisa miliki. Dengan orang tua yang semacam itu dia bisa ngomong kasar dibelakang mereka? Mbak kos saya jelas tidak tahu bagaimana harus bersyukur karena banyak orang lain ditakdirkan punya keluarga yang tidak stabil, serta tidak menyenangkan.

Kembali ke teman saya yang menelepon saya tadi... entah... saya merasa kasihan dengan keadaannya yang demikian tapi juga merasa senang disatu sisi. Baguslah... karena dia sudah tahu rasanya bagaimana dijahati maka nantinya dia tidak akan lagi sembarang menyakiti perasaan orang dibelakang punggung. Karena dia sudah tahu rasa sakit dan merasa sendirian maka dia akan berpikir berkali-kali jika akan melakukan hal yang sama pada orang lain lagi dimasa depan. Hal-hal yang pernah saya rasakan dulunya karena mendadak merasa tidak lagi sesuai dengan teman-teman satu rumah.
Mudah saja bagi kita untuk menyakiti seseorang karena kita tidak tahu bagaimana rasanya. Namun kita tidak terus hidup pada roda atas. Entah kapan waktunya, kita mungkin juga akan memetik pelajaran itu. Bukan karena siapa membalas siapa... saya pikir, tapi lebih karena kita sendiri yang menanam maka kitalah sendiri orang yang pada akhirnya akan memetik hasil.
 ~

Sunday, March 11, 2012

I'm Wondering...

Abu-abu itu perlu, bersedih juga perlu
Tapi kau tidak selamanya harus begitu.

(pic taken random by googling)
Mengapa ada orang-orang yang bisa tidak capek menulis segala hal yang kesemuanya melankolis?
Melankolis yang polanya nyaris sama.
Saya bertanya-tanya kenapa mereka nggak capek, karena terkadang membaca tulisan melankolis serupa terus-menerus bisa membuat saya lelah batin. Jenis melankolis yang melelahkan. Yang pathetic.
Apakah hidupmu setidakbersemangat itu?
Saya bertanya-tanya, membatin.


Dan buku-buku terbitan penerbit itu tidak lagi menggoda saya dari rak buku.
Dulunya terasa indah dan manis. Sekarang mungkin tidak, atau saya yang kehilangan taste...
Kilasan isinya terlihat begitu melelahkan.
Saya tidak sanggup baca.
Apalagi beli.
Saya khawatir stress sendiri.

Friday, March 9, 2012

Sensi Seksi

Ekspresi saya ketika dikatain galau 
disaat saya sebenarnya sedang TIDAK GALAU
 atau TIDAK SEDANG BINGUNG SENDIRI
(pic taken random by google)
Saya suka sebel kalau ada yang mendadak komen di postingan saya: galaauuuuuuuuuuu.
Terutama teman yang nggak kenal dekat.
Seenak dia saja ngatain saya galau, padahal kondisi saya saat itu, saya nggak lagi galau kok.
Oke mungkin dalam hal pencarian kerja. Tapi nggak dalam yang lain-lainnya.
Kalau tulis apa sedikit-dikit dibilang galau, saya yakin Chairil Anwar atau Pablo Neruda adalah rektornya galau.
Ya suka-suka saya kan semisal saya mau marah, mau galau, mau bikin silent posting di blog saya sendiri.
Setiap ada yang mendadak muncul ngatain saya galau, apa yang saya lakukan?
DELETE COMMENT.
Saya malas mengunjungi dia balik.
Demikian.
Sudahlah.

Tuesday, February 28, 2012

Sertakan Kerudung Saya

SO GET RELAX, DEAR ME...
(pic taken from random googling)
Ini cerita ketika saya sedang dalam proses walk in interview sebuah department store. Proses walk in interview saya lokasinya disebuah mall. Via sms saya diberi tahu untuk masuk dari pintu karyawan. Iya saya masuk dengan naik tangga berlantai-lantai hanya untuk menemukan bahwa semua calon karyawan duduk atau berdiri keleleran sepanjang tangga. Kami dibiarkan menunggu lama padahal banyak yang memakai sepatu hak tinggi, ada juga mas-mas yang bahkan menunggu sampai jam 10 pagi, sementara waktu itu sudah jam 12an.

Saya sudah mulai membatin kalau nampaknya proses walk in interview itu bakalan tidak efisien. Tahu-tahu saja pegawainya semua keluar dalam rangka istirahat bersama. Kami katanya juga disuruh istirahat dulu. Ya siapa mau baru naik tangga berlantai-lantai terus turun lagi dan naik lagi sementara saat itu baru saja dapat tempat duduk.

Dalam pikiran saya, manajemen semestinya tidak memanggil sedemikian banyak orang kalau wawancaranya tidak bisa dilakukan tepat waktu dan terutama ditinggal dulu istirahat. Kenapa ya nggak dibagi dua saja biar nggak ada yang dirugikan, sekelompok orang istirahat sekelompok lain tinggal untuk terus melakukan wawancara. Istirahatnya gantian. Banyak yang sudah lebih lama dari saya kelelahan berdiri, bahkan juga ada beberapa bapak-bapak setengah baya yang adalah calon karyawan dengan referensi pengalaman.

Setelah beberapa waktu capek menunggu, baru bagian HRD masuk lagi ke ruangan, itu juga satu per satu dan agak lama sampai mereka lengkap. Ruang wawancara lebih bikin bingung lagi, ketika saya masuk dalam ruangan itu berisi sekian staf yang satu persatu menghadapi satu pelamar kerja dan mereka beramai-ramai melakukan wawancara sehingga membuat suasana di daerah wawancara berisik bukan main. Mau jawab pewawancaranya sering nggak dengar, waktu pewawancaranya nanya saya juga sering nggak dengar saking berisiknya.

Terus pewawancara saya yang adalah mas-mas berusia muda kemudian bertanya, "Errr... saya nggak tahu ya anda pernah dengar atau tidak pertanyaan seperti ini dalam wawancara anda yang lain. Tapi semisal anda diterima disini apakah anda mau - maaf melepas jilbab,"
Serius saya kaget, serius juga saya kesal.
Perjuangan saya dalam perjalanan sekaligus perjuangan begitu lama menunggu, kaki saya yang pakai high heels sampai pegal-pegal hanya untuk memenuhi panggilan sebuah perusahaan yang ternyata tidak worthed saya perjuangkan.

Menilai seorang pelamar dari berkerudung atau tidaknya dan secara tidak langsung memaksa karyawannya untuk tidak menggunakan kerudung ketika bekerja bagi saya sungguh pikiran yang picik. Apalagi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama muslim. Perusahaan semestinya menilai saya dari cara saya berbicara dan dari CV yang saya serahkan.

Padahal saya sudah menyerahkan CV lengkap berikut foto ketika perusahaan itu membuka stand di jobfair, sementara foto saya dalam CV itu juga berkerudung. Saya menghela nafas dan menjawab bahwa saya sudah sepaket dengan kerudung itu, jadi saya tidak bersedia melepasnya. Saya pikir seharusnya perusahaan itu juga tidak memanggil saya lagi untuk mengikuti walk in interview setelah memperhatikan CV saya berikut foto berkerudung itu kan? Bahwa jika saya tidak sesuai dengan 'budaya' perusahaan itu maka semestinya tidak usah memberikan panggilan lanjut kepada saya kemudian seolah mencoba melakukan bujukan untuk membuat saya melepas kerudung - ah ya ini perasaan saya saja sih. Tapi tetap saja rasanya sungguh membuat kesal. Saya baru sadar kalau semua pegawai wanita yang saya temui di department store itu tidak ada yang memakai kerudung.
Kemudian dibagian akhir interview saya diminta menunggu selama seminggu karena kabar jika saya lolos atau tidak bisa akan diberikan dalam waktu seminggu.
In fact, kabarnya tidak juga datang setelah dua minggu lebih. Jadi saya rasa memang begitulah cara perusahaan itu mengelola manajemennya.

Tidak apa-apa, mereka yang rugi karena menolak seseorang yang berkompeten seperti saya *sombong mode ON*. Tidak apa-apa, karena bumi Allah pasti masih menyimpan banyak rejeki untuk hambaNya yang memegang erat perintahNya.
Saya percaya. Buktinya saya masih bisa punya penghasilan sendiri meskipun belum kerja full-time. Alhamdulillah.
Semoga rejeki berikutnya berbentuk kerja full-time :)

Sunday, January 1, 2012

Saya dan Kawat Gigi

saya, dengan kawat gigi

Hai!
Ini awal tahun, kawan... Saya nggak kemana-mana. Saya melakukan aktivitas sama dengan hari-hari kemarin yakni mendownload serial drama dan menontonnya lama-lama. Lidah saya terasa sakit ketika saya bangun dari tidur kemarin. Saya bukan main susah makan, bahkan meskipun makanan yang lembut seperti nasi yang agak lembek dan mi goreng yang baru saya coba bikin dengan cara yang berbeda dengan perlakuan saya yang biasanya.

Lidah saya tambah sakit lagi hari ini, sepertinya saya salah posisi tidur sehingga lidah saya tergigit tanpa sengaja. Ini penderitaan pemakai kawat gigi. Saya heran mengapa orang-orang yang giginya sudah cukup rapi malah mau merasakan penderitaan yang sama.

Alasan saya dikawat adalah bukan cuma karena gigi saya tidak rapi, tapi karena juga saya sering sakit gigi dulu. Pertama kali saya mengajukan niat untuk memakai kawat gigi adalah sudah sejak kelas 1 SMA, karena saya capek sering sakit gigi. Gigi saya juga cepat numbuh lagi karangnya, kata Kakak sepupu saya itu karena kandungan air ludah dan gigi saya yang tidak rapi dan bertumpuk jadi mendorong tersimpannya kotoran yang tidak terjangkau sikat gigi. Saya mesti rajin ke dokter gigi agar karang gigi saya bersih, nggak sampai membuat gigi saya renggang dan gusinya benjol-benjol.

Akhirnya sewaktu kuliah mendekati semester akhir, saya baru diperbolehkan memasang kawat gigi. Sampai saat ini saya sudah memakai itu nyaris 2 tahun. Sekarang kawat gigi semakin trend, ada juga yang cuma berupa hiasan bentuk kawat gigi buat gaya-gayaan saja. Saya nggak tahu kenapa barang yang kalau di luar negeri merupakan atribut jenis manusia cupu macam saya jadi trend yang berkembang.
Saya nggak paham.

Sampai waktu saya cerita sudah cepat-cepat pengin kawat gigi saya dilepas, teman saya bilang: Yah kan baru musim, Nin... malah kamu pengin lepas.

Saya ketawa dan bilang, mereka yang menganggap ini bagian dari trend pasti nggak tahu sengsaranya memakai behel.

Yang saya kaget juga adalah mereka-mereka yang main anggap saja bahwa kawat gigi ini haram karena merubah ciptaan.
Kalau anda ada diposisi saya pasti anda tidak akan mengklaim asal seperti demikian. Merapikan gigi, bagi saya sangat membantu kesehatan. Saya bisa lebih mudah membersihkan gigi karena sekarang gigi saya juga sudah jauh lebih rapi ketimbang dulu, karang gigi jarang menumpuk karena saya membersihkan sampai sela kawatnya juga. Sudah tidak pernah sakit gigi lagi kecuali pertumbuhan gigi dewasa dibagian paling belakang dari deret gigi saya.

Sebelum saya merapikan gigi dengan kawat gigi, saya juga sudah membrowsing Fiqih Ahkam atau Hukum Fiqih soal ini, dan memang diperbolehkan. Bahkan gigi palsu dari emas sekiranya lebih baik bagi pemakainya, bukan untuk pamer Rasulullah mengizinkan.

Kemudian bagaimana dengan sewaktu kaki saya harus dioperasi dan dipasangi alat untuk membantu perekatan kaki saya dan mengembalikan fungsinya setelah saya mengalami kecelakaan kendaraan bermotor? Apakah saya harus tidak menjalankan operasi karena sama halnya dengan saya menentang takdir? Apakah saya harus berjalan dipapah atau dengan tongkat, dengan kursi roda terus-menerus selama hidup saya?
Saya mengambil pilihan dioperasi itu meskipun saya takut dengan apapun yang berhubungan dengan rumah sakit, kemudian sekarang saya sehat-sehat saja. Bisa menghadiri berbagai interview kerja diluar kota meskipun tanpa diantar, tanpa perlu memboroskan tenaga dan waktu orang lain.
Ada pilihan yang lebih tepat untuk menilai situasi, yaitu melihat latar belakang kondisi bukannya langsung menclaim benar salah setelah melihat sepintas.

Jadi masih mau memposisikan kawat gigi sebagai sesuatu yang haramkah, kawan?

Friday, December 30, 2011

Saya BUKAN Manusia Galau

Galau itu seperti Balon ini.
Tertahan ditengah jarak bumi dan langit.

(image taken from random googling - old file)
Pertama, galau itu apa sih?
Iya yang sejenis menye-menye abu-abu nggak jelas. Sedih terus menerus seolah tanpa tujuan hidup.
Entah siapa yang membuat kata galau populer, sampai-sampai segala tulisan saya yang indah-indah disejajarkan dengan kata galau.
Sudah jelas tulisan semanis itu dibilang 'galau' seperti tulisan saya yang ini (klik). Ah nggak cocok deh :p

Apakah kamu tahu apa arti kata galau sebenarnya? Galau adalah (pada konteks kata yang sesungguhnya) sama artinya dengan gundah. Orang yang sedang galau sama artinya dengan orang yang sedang kebingungan, orang yang 'mengambang' tidak menjejak bumi tapi juga tidak bisa terbang. Galau berbeda dengan melankolis ya... melankolis bisa menghasilkan sesuatu dari kemelankolisannya dia sementara galauers cuma bisa menye-menye cari perhatian di jejaring sosial :p

Saya bukan orang yang tanpa tujuan hidup, saya bukan orang yang tanpa cita-cita. Saya bukan manusia yang tengah galau jika sedang memposting tulisan indah. Saya cuma berusaha menulis cerita, atau rasa yang bisa disampaikan dalam wujud tulisan pendek.

Saya cuma suka menulis, bagi saya menulis adalah bagian dari terapi kejiwaan. Dan ya menulis sudah mendatangkan pasokan dana yang sangat lumayan untuk hidup saya. Menulis adalah ladang penghasilan bagi saya sejak saya masih duduk di bangku SMA. Sampai saat ini.
Jadi... apakah penulis puisi bisa dinamai manusia galau? Tentu tidak.
Dia punya tujuan hidupnya kan, menerbitkan tulisan melankolinya itu.

Saya? Saya sih bukan penulis, saya doyannya ngetik di laptop. Saya bukan penulis. Saya cuma suka mengetik-ngetik nggak penting menghadapi jendela saya. Saya nggak bisa juga menghindar dari menulis keluhan, ya biar saja.
Mengeluh adalah sifat dasar alami para wanita                  - Devania Annesya
Dan saya melakukan di jendela saya sendiri. Yang saya nggak maksa siapapun untuk lirik-lirik kesini. Aman kan, jadi kalian tidak perlu 'kepaksa' melihat keluhan saya.
Sekian, STOP menyebut tulisan saya galau. Karena saya tidak sedang bersedih apalagi kebingungan. Oke, kalau dibilang melankolis sih masih boleh ya ;)

Kenapa saya bukan penulis? Karena kotak pensil saya kemarin hilang seisinya, jadi saya nggak bisa menulis-nulis lagi. Kasihan kan saya T^T





Ttd,
Ninda
Manusia yang tidak galau.
Cuma memang 'sedikit' hiperbol.

Wednesday, December 28, 2011

Tolong... Biarkan Saya Menikmati Lagu Saya Sendiri

Bahkan kadang, mendengar bunyi telepon
atau ponsel orang lain
yang takkunjung dia angkat pun
juga bisa membuat kita kesal

(image taken from Bluberrypie's mim)

Kawan, ketika saya sedang main-main ke blog kalian...
ketika itu saya biasanya juga sedang mendengarkan musik di playlist laptop saya. Kadangkala ketika masuk sebuah blog, jreeeeeeeeeeeeennngg....
Suara bingar masuk ke pendengaran saya, bikin sakit telinga karena juga bercampur dengan musik yang saya putar.
Bikin pusing. Terutama musik-musik 'keras'. Ah gak enak banget... lembut bervokal saja saya masih merasa keganggu. Apalagi yang ramai berisik begini.

Ini bukannya saya melarang kalian memasang musik yang kalian suka di blog kalian sendiri. Itu blog kalian, tentu saja sudah menjadi hak kalian untuk ngapain aja blog itu. Tapi sekali waktu tolong juga pikirkan kami-kami yang bertalian di dunia blog dengan kalian. Nggak apa-apa sih kalau blog kalian personal dan cuma bisa ditemukan via link tertentu atau googling. Namun kalau kita sudah berinteraksi sering-sering di dunia blog tentulah ada saling berbalas kunjungan.

Tidak semua musik yang kalian putar kami sukai. Tidak semua musik yang kalian suka tidak membuat kami kehilangan kenyamanan. Jadi seringnya saya suka kaget dan buru-buru mematikan musik saya sendiri saat saya lagi baca blog kalian. Bukan cuma saya pastinya ya, semua pembacanya juga.

Aduh kadang saya kepingin ngeluh, saya juga pengin dengarkan musik saya sendiri. Musik dari playlist saya, malas banget 'dipaksa' kudu dengar lama-lama musik yang nggak bisa distop dari seorang kawan.

Jadi untuk ambil jalan tengahnya, saya sarankan pada kawan yang memasang lagu favorit di blognya agar cuma memasang lagu yang bisa di stop oleh pengunjung dan letakkan panel untuk stop itu di dekat daerah header blog, jadinya gampang ditemukan oleh pembaca yang malas mendengarkan musik yang kalian putar.

Nah itulah mengapa nggak memasang lagu-lagu di blog saya. Kalau saya kepingin dengar ya taruh di playlist atau taruh deh di posting. Bukannya 'memaksakan' orang lain untuk dengarin ;)
Saran sih ya, nggak didengar juga nothing to lose lah :D
~

Dini hari, ketika lagu-lagu lama Kla Project masuk ke pendengaran saya.

Monday, December 26, 2011

Triple Lima

and all I need when I am down
 is chocolate 
and writing on my blog
image taken from old file (googling)

Perjalanan sudah nyaris empat tahun, hari ini tepat 555 follower kertas maya saya. Angka cantik ya, tapi percayalah ini tidak didahului oleh kegiatan mencari wangsit di bawah pohon besar :D
Namun saya merasa harus berterima kasih pada tempat ini, yang dengan menulis di dalamnya membuat saya tetap waras menghadapi berbagai kondisi rasa dan goncangan. Buat saya ini satu-satunya pelarian terbaik saya selain do'a ketika saya dalam kondisi suram. Meskipun kata salah seorang sahabat saya kertas maya yang ini tidak sehidup dulu. Rupanya banyaknya orang yang datang juga ikut mempengaruhi. Dia bilang rasanya saya jadi malah menjaga perasaan pembaca saya.

Dan itu saya rasa benar adanya. Banyaknya pengkomentar pedas yang nggak berani mencantumkan nama, dulu bikin saya kesal.
Ih apaan sih ini orang ya biarin deh saya mau nulis apa di blog-blog saya sendiri (padahal hosting juga gak bayar :p). Sudahlah, saya cuma butuh menulis untuk mendapatkan fase 'kosong' dari segala tinta gelap dalam perasaan saya, dalam hidup saya.

Saya kadangkala juga nggak butuh dikomentari. Jadi itu sebabnya kenapa kadang saya suka mengunci komentar. Saya cuma mau ngomong sama kertas virtual saya. Saya cuma mau merasa lega. Cuma mau menjadikan itu sebagai terapi kejiwaan paling murah bagi orang seperti saya yang minim ekspresi dan susah curhat. Saya nggak butuh orang-orang yang mampir dan komentar pedas yang nggak enak. Yang cuma mau membuang cibiran.
Sudahlah.

Lepas daripada itu saya senang. Karena dengan kertas maya saya, saya juga bisa bersentuhan dengan individu-individu baru yang ikut mampir kedalam hidup saya dan mengintervensi. Mereka, pribadi yang terkadang berhasil saya wakili rasanya dalam setiap ringkasan tulisan... saya mendengar kamu, saya melihat cerita kamu, saya bisa merasa apapun dengan lebih peka sekarang untuk saya olah dalam pikir dan kalbu untuk saya tuliskan. 

Terima kasih ya, dan selamat datang dalam dunia saya yang sedang kamu intip disini :)

Saturday, December 17, 2011

Assalamualaikum, apa?

Tolong hargai kami.
pic taken from random googling (file lama)

Kapan kemarin itu saya menemani teman saya nyari sepatu formal berhak tinggi, nampaknya dia kepingin sewaktu saya pakai itu untuk foto kerja bersama dia. Iya saya foto kerja lagi. Foto terakhir saya sudah lama sekali, dan ketembaman pipi saya sudah berkurang cukup banyak sejak saat itu. Err... mungkin karena kebanyakan makan tempe.
Nah teman saya ini foto kerja lagi karena dia beberapa bulan lalu telah memakai kerudung (semoga awet terus. amin. :)).

Saya bantuin dia nyari di salah satu department store yang menyatu dengan pasar besar di Malang. Siapa tahu kan nemu barang bagus dan diskonan. Saat mau naik ke eskalator ada abang-abang yang bilang Assalamualaikum. Saya diam. Saya pikir dia menyapa temannya atau apa.

Kemudian dia pegang pangkal tangan saya terus ngomong: "Heh, Assalamualaikum..."
Saya kaget, spontan saya kibaskan cepat kemudian saya tegur: "Apa sih... orang gak kenal juga! Eh, jangan bikin main-mainan ucapan salam ya!"
Teman saya ketika sampai di lantai atas ketawa dan bilang: "Sabar... sabar..."
"Lah dianya sudah pegang-pegang..."
Sejujurnya saya paling kesal dengan orang-orang yang berniat menggoda cewek lewat, namun karena dia berkerudung jadi yang dibilang bukan suit suit cewek... tapi diganti dengan: Assalamualaikum.
Nah terus kalau kitanya nggak jawab suka kayak terus diulang-ulang, nah kemudian dianya nyinyir... ih kok dia gitu sih, masa orang salam nggak dijawab...

Kalau saya, bukannya saya nggak mau jawab salam. Cuma saya sebal banget dengan kemuliaan salam itu yang dibuat mainan seenak hati dan sebagai kalimat ganti dari: SUIT SUIT CEWEK...! Ya pastinya kalimat itu diucapkan dengan niatan yang sudah tidak baik pula.

Assalamualaikum itu do'a lho, jadi jangan sembarangan melontarkannya untuk menggoda cewek lewat didekat kalian dong... kaum lelaki!
Next Page Home