Wednesday, February 27, 2019

'HANYA SEKEDAR MENGINGATKAN', APA SELUCU ITU?

Hallo netizen!
Sadar nggak sih bahwa waktu yang kita habiskan untuk scrolling timeline di media sosial cukup banyak? Coba aja cek di ponsel, berapa waktu setiap harinya yang kita habiskan mantengin app dan scroll timeline? Perharinya bisa sekian jam deh, apalagi yang cukup aktif di media sosial seperti saya, kayaknya waktu online hampir sama dengan waktu tidur.

Dunia social media terus terang semakin semarak saja sekarang ini, jadi banyak aplikasi yang dikembangkan untuk mendukung keindahan social media milik kita. Bahkan mau update daily activities juga udah 'nggak biasa' lagi karena diperindah dengan aplikasi-aplikasi yang eye-catching.

Social media life sudah sama pentingnya dengan real life, kita memerlukan social image, memerlukan update rutin yang menarik untuk bikin orang merasa social media kita cukup layak untuk diikuti.

Social media dan beragam platform komunikasi saat ini membuat arus informasi terasa lebih cepat dan sangat mudah diakses. Kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di negara ini atau kejadian sepele di dunia lain hanya karena betapa viralnya informasi tersebut.

Meskipun tentu saja dampaknya terhadap masyarahat sangat beragam, bisa baik maupun buruk. Contohnya mengenai dakwah, masyaAllah dakwah dapat dengan mudah kita temukan seliweran di timeline maupun update-an dari orang yang kita kenal. Dari yang semula awam, dari enggak tahu menjadi tahu. Pemahaman ilmu agama kita akan terupgrade dari awam menjadi sedikit tahu dan menjadi lebih tahu. Tidak sekadar barisan kata di kartu tanda penduduk.

Baca juga: 
5 PONSEL NOKIA JADUL YANG PALING UPDATE
Peran media online sangat besar artinya bagi masyarakat, dari sisi positif peran masyarakat juga dapat menjadi kontrol sosial yang baik melalui kejadian keseharian. Seperti pola pengasuhan guru terhadap murid, orang tua terhadap anak dan seterusnya.

Dunia digital yang dinamis juga menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya asing bagi kita. Dunia kreatif mendapat angin segar, kamu bisa saja tidak mengenyam pendidikan formal yang cukup di suatu bidang, tapi kamu bisa jaya dengan karya maupun social image kalau kamu kreatif. Semakin banyak peluang kerja yang muncul, tidak melulu CPNS dan tes masuk di perusahaan bagus.
Makin banyak orang yang menjadi terkenal karena skill mereka.
Makin banyak public figure dengan segala sisi kehidupan mereka.

People always judge, yes we do.
Kita punya prasangka untuk seseorang hanya karena penampilannya, bau pakaiannya, bahasa tubuh bahkan cara bicaranya.
We always judging others. Dengan atau tanpa sadar. Terbetik begitu saja dari pikiran dan perasaan kita.

Terutama public figure, yang demikian susah lepas dari social image dan komentar masyarakat. Sebenernya ini bukan sesuatu yang baru sih. Sudah paketan bahwa orang terkenal pasti susah lepas dari gosip, prasangka masyarakat dan komentar masyarakat.

Hanya saja, dulu mereka tidak bebas melakukannya.
Mereka hanya mengutarakan satu sama lain saat sedang menonton tayangan televisi, membaca tabloid selebriti maupun saat sedang nonton infotainment. Komentar-komentar sambil lalu dari orang-orang biasa tentang para penggelut dunia hiburan yang tidak akan pernah sampai langsung ke selebriti itu sendiri. Bahkan meskipun sudah berlangganan sms ketik REG (spasi) Nama Artis yang dulu populer banget.

Sekarang, berkat media sosial...
Ketika selebriti tanah air maupun internasional memiliki media sosial sendiri dan diikuti oleh masyarakat netizen yang budiman, komentar-komentar yang berkaitan dengan hidup mereka itu akhirnya tidak jadi sekadar sambil lalu lagi. Dengan leluasa mereka menyampaikan uneg-uneg seputar para public figure nggak peduli apapun pekerjaannya melalui posting dan komentar. Banyak yang masih mikirin susunan kata-katanya biar enak dibaca si public figure itu, tapi nggak kalah banyak juga yang nanyanya nyebelin.

Teman-teman sebagai sesama netizen pasti deh sering tanpa sengaja ngebaca komentar dari netizen lain yang cenderung kasar dan menyakiti siapapun komentar itu ditujukan.

Saya nggak menampik bahwa omongan menyakitkan setiap harinya selalu memiliki peluang untuk ditujukan kepada kita, peluang itu akan lebih besar probabilitasnya ketika kita adalah public figure yang tentunya banyak dikenal orang. Meskipun batas antara kasar dan tidak meyenangkan untuk setiap komentar yang dilontarkan memang berbeda ukurannya bagi setiap orang.

Hati memiliki batas yang samar untuk kriteria seberapa menyakitkannya sebuah komentar. Bahkan di negara kita ini, basa-basi seadanya juga bisa dianggap menjadi komentar menyakitkan karena pertanyaan yang terlalu instens dan melanggar telak wilayah privasi kita. Katakanlah sebagai contoh, pertanyaan atau komentar tetangga bahwa kita tidak juga lulus sekolah, tidak juga bekerja, tidak juga berhenti bergantung pada orang tua dan seterusnya.

Sementara itu adalah sudah menjadi ajaran Islam bahwa sesama muslim harus saling mengingatkan. Itulah mengapa bergaul dengan siapa dan orang yang seperti apa juga erat kaitannya dengan naik turun iman dan seberapa baik akhlak kita. Bergaul dengan tukang parfum, kita akan tertular wanginya, memiliki lingkungan teman dengan kapasitas iman yang baik akan membuat iman kita cenderung lebih kuat dan stabil dibanding yang tidak.

Teman yang baik adalah yang mengingatkan ketika kita lalai dalam agama. Karena dia ingin pertemanan yang terjamin bukan hanya atas dua orang, tapi juga tentang bagaimana menjadi saling mendorong untuk kebaikan demi ridho Allah. That's friend till jannah means.

Meskipun fenomena yang ada saat ini, orang-orang sering sembarangan mengingatkan orang lain di ranah publik. Maksudnya untuk menghindarkan para fans dari si orang tersebut untuk meniru si public figure dalam menjalankan sesuatu yang dari sudut pandang agama kurang baik. Baik dari sisi maksud meskipun eksekusinya kurang baik.

Seringkali karena beberapa kali komentar atau mungkin sudah teramat banyak netizen yang mengeluarkan nasehat yang sama, tapi si public figure 'sebodo teuing' tidak menghiraukan semua nasihat yang masuk sama sekali. Maka muncullah orang-orang yang berkomentar dengan arah menasehati tapi ditutup dengan 'maaf hanya sekedar mengingatkan'.

Masih nyambung sebenarnya dengan adab beragama di masyarakat, jika memang tidak sesuai dengan tuntunan agama maka kita dianjurkan untuk mengingatkan. Dilakukan lagi, ingatkan lagi karena itu sudah menjadi kewajiban kita dalam mengingatkan. Setidaknya setelah 3kali terjadi siklus yang sama, kita bisa berlepas diri dari orang tersebut dan kewajiban kita. Karena kewajiban kita untuk mengingatkan sudah gugur saat itu. Kemampuan kita saat ini mungkin hanya bisa berlanjut dengan mengingatkan dalam hati, yang berdo'a semoga orang itu Allah bukakan pintu hidayah.

Saya punya teman yang kerjaannya posting status sarat dengan SARA, dan dasar ya semua tulisan SARA itu seolah begitu pro toleransi, tapi dengan semua olah pikir dia yang awam itu justru habis-habisan menyakiti hati saudara sesama muslim.

Saya mengenalnya dari semasa sekolah sebagai teman yang baik kepada saya, karena ngerasa dia adalah teman saya, maka saya mengingatkan dia (kalau ngga ngerasa temen dan nggak deket mah ya bodo amat). Tidak digubris, dengan cueknya dia pasang status SARA lagi. Aslinya saya orang yang bodo amat dengan tingkah orang lain, baru berasa banget 'mak nyes' di hati kalau sudah bersinggungan sama prinsip-prinsip hidup saya, baik agama dan moral.

Saya ingatkan lagi, saya kasih tahu baik-baik bahwa saya tersinggung dengan postingan dia melalui obrolan privat di chat. Begitupun dengan orang-orang lain yang turut komentar, bukan nyalahin dia tapi dia yang terlalu ignorance menyakiti orang lain kemudian playing victim merasa semua orang yang komentar pada status itu sedang menjahati dia.

Ketiga kalinya adalah batas saya mampu bersabar terhadap unggahan SARA dia, tanpa harus membalas dengan omongan kasar dan sejenisnya. Saya ingatkan baik-baik lagi dan saya bilang kalau saya pikir selama ini dia teman saya, tapi nampaknya dia nggak peduli kalau unggahannya menyakiti hati saya dan banyak orang lain juga. Maka kewajiban saya menegur sudah sampai disini, saya memutuskan untuk berhenti. Karena malah jadi debat yang bikin saya ngerasa bodoh pada akhirnya karena ngomong sama orang ignorance yang sok tahu dan merasa pintar agama padahal nggak tahu apa-apa.

Toh saya juga sibuk, banyak hal yang harus dipikirkan tanpa mikirin teman yang sebenernya nggak urus sama perasaan saya.

I leave her as a media social friend, bukan berarti saya berhenti berteman dengan dia di dunia nyata. Tapi saya menghapusnya dari daftar teman saya agar saya tidak perlu membaca update-nya yang terus-terusan bikin saya tersinggung.

Jadi, mengingatkan adalah memang sebuah kewajiban dalam agama ini meskipun pihak yang diingatkan masa bodoh dan tidak mau mendengarkan apa yang kita sampaikan. Selama kita menyampaikannya dengan sopan dan paling penting kewajiban kita gugur setelah kita menyampaikan nasehat itu.

See? Mengingatkan adalah sesuatu yang baik, menyampaikannya butuh adab dan kesabaran yang cukup juga. Dan betapa mengingatkan adalah sesuatu yang demikian baiknya.
Did you know? Dunia yang memburuk bisa jadi bukan hanya karena banyak orang-orang yang jahat, tapi ketika orang-orang baik memilih untuk diam.
Sungguh jauh dari layak untuk dijadikan bahan meme ejekan meskipun digunakan banyak orang dengan tidak seharusnya.

Mengingatkan tetap adalah hal yang erat kaitannya bahwa betapa kita menghendaki kebaikan pada orang yang kita kenal dan di tengah masyarakat tempat kita hidup ini.
Kenapa malah dijadikan meme dan guyonan yang jatuhnya ke arah melecehkan makna dari nasehat dan akan pentingnya mengingatkan itu sendiri?

Jangan dirusak maknanya dengan dijadikan jokes dan meme, toh biasanya mereka yang mengatakan hanya sekedar mengingatkan juga menyampaikannya dengan sopan.
"Mba lebih cantik pakai hijab deh, maaf hanya sekadar mengingatkan,"
Sopan lho. Kalau tidak sopan, dia mungkin akan bilang.
"Mba maaf mendingan pakai hijab deh daripada ayah dan suaminya masuk neraka gara-gara mbak." 
Meskipun dari sudut pandang agama memang benar adanya, nggak asal omong karena ada landasan tuntunannya, tapi pasti bikin baik si objek nasihat dan bahkan siapapun yang baca komentar itu jadi auto pengin nampol, ya nggak sih?

'Maaf hanya sekedar mengingatkan', selama disampaikan dengan sopan adalah hanyalah sebuah friendly reminder.

Tidak perlu ditanggapi dengan berlebihan sampai harus memasukkannya dalam jokes yang lagi in.
Yah mungkin kamu tidak tahu bahwa mengingatkan juga memang benar adalah kewajiban dalam agama ini, tapi kalau sebelumnya kamu tidak tahu...
.... now you know, so please stop joking around that words :)

9 comments:

  1. Bener banget kak ninda, kadang orang-orang berkata seenaknya di media sosial tampa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Aku juga meng-hide/unfollow beberapa orang di medsos ku karena postingannya yang cenderung provokasi dan sara banget. Ga paham juga aku kenapa orang-orang seperti itu sekarang :(

    ReplyDelete
  2. eh aku sepakat sama "sekadar mengingatkan" ini. menurut aku, sekadar mengingatkan itu came from a good place, jadi seandainya nggak pas pun ndak perlu ditanggapi--tapi ini sudut pandangku, jadi aku ngga bisa bilang 'gak boleh marah' sama yang tersinggung kalo diingatkan dengan cara ini.

    soalnya kadang cape juga sama random people masuk ke dm terus sekadar mengingatkan tapi sotoy. kalo temen yang ngingetin mungkin kaya "oooh iya paham" tapi karena random dan nggak kenal, kadang yang mereka omongin suka sotoy dan ngga nyambung... begicu

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan males juga kita tanggepin ya ngga sih gi?
      heheh semua orang pasti sebel kalau diingetin meskipun kitanya sendiri salah
      yasudah biarkan saja
      but deep down kita pasti bakal merenung sendiri kok kalau kita memang salah

      Delete
  3. hai anyin... :D

    kalau sudah menyinggung soal Agama, kecuali orang dekat, ada baiknya tetap diam kalau di social media. Lebih baik jika dibicarakan offline. karena media social yang hanya modal text yang kadang bisa diplintir, sangat rentan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Sam,
      aku ngga tau apakah dalam hal ini kamu membagikan uneg2 atau ngomentarin aku (?)
      Yes I did, aku bahas personal sama temanku kok di chat pribadi.
      ini kan yang aku tulis, mungkin kamu kelewat
      Saya ingatkan lagi, saya kasih tahu baik-baik bahwa saya tersinggung dengan postingan dia melalui obrolan privat di chat.
      see?
      I do try but all she don't hear me at all. And the harassment post from her stil go on

      Delete
    2. I do try but she don't hear me at all.

      Delete
  4. Sharing ilmu berfaedah secara gratis bukan budaya kitaaaa
    Budaya kita adalah bikin konten2 yang ignorance
    Budaya kita adalah nyerang orang lalu bilang "maaf hanya sekedar mengingatkan"

    -_______-

    Aku juga pernah sih jokes begitu, tapi ya yg receh receh dan balesannya juga pada ketawa. Bukannya nyinggung orang lalu berdalih itu cuma becanda

    But yea maybe I'm not gonna use that joke anymore

    Thanks for reminding, kak ninnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. hanya sekadar mengingatkan datang dari tempat yang baik
      sebenernya
      orang2nya aja yang nyebelin dengan memakai katakata itu kadang juga melukai kita tapi biarkan, tujuannya baik meskipun nggak nyaman sih
      ya yang penting tetap dgn bahasa yg sopan

      Delete
  5. Uda baca pas abis kamu publish kemaren ahhahaha
    Maap baru sempet njejak

    Auok nyiiin banyakin lagi postingan yg ginian.....aku suka klo baca yg temanya kayak gini

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home