Saturday, November 23, 2019

BERITA KELABU

Hari itu hari yang biasa saja. 
Pagi itu saya menghangatkan makanan, memastikan makanan di kulkas masih bisa untuk beberapa hari ke depan, kemudian mulai bekerja dan tertidur di siang hari. Menyiapkan makanan sehat untuk diri sendiri sebelum makan pagi merangkap siang.

Saya mengunyah makanan lamat-lamat dan mencoba fokus. Selalu tidak mudah untuk mengatur pikiran untuk tetap fokus saat sedang makan, saya toh sering gagal mengendalikan pikiran untuk berpikir tentang apa saja, termasuk pekerjaan.

Saya menyelesaikan suapan terakhir, membereskan meja, menuang kopi setelah disaring dengan filter, mengambil bongkahan es batu dari kulkas dan menabur gula dan kayu manis pada sepotong donat polos yang baru saja dihangatkan selagi saya makan.

Sore hari adalah waktu dimana fokus saya mulai kabur, badan dan mata serasa masih ingin tetap rebahan, tapi saya selalu tidak suka efek rasa bersalah setelahnya. Terlalu lama tiduran membuat saya merasa tidak produktif dan tidak memaksimalkan diri untuk bekerja.

Kopi adalah teman terbaik saya saat sore tiba. Menyesap kopi tanpa gula yang dingin dengan limpahan es batu dan embun yang mengucur dari permukaan gelas bagian luar adalah tegukan yang seolah menyadarkan saya dari fokus yang berantakan. Seolah setiap sesapan ditemani apapun penganan yang tersedia adalah saat dimana saya menata ulang apa yang saya pikirkan, daftar prioritas saya dan menyisihkan hal-hal yang semestinya tidak perlu dipikirkan dengan effort yang terlalu menyita energi.

Saya meraih ponsel yang tadinya tergeletak di kursi untuk mengecek notifikasi email dan media sosial. Ada satu pesan yang tidak biasanya mampir ke kotak masuk saya.

"Mba, tahu Dini kan? Sepertinya dulu dia sering komentar di blog mba deh,"

"Iya tahu," saya menjawab dalam hati, bertanya-tanya arah dari pesan itu, saat mata saya jatuh pada pesan berikutnya, menjawab pertanyaan yang saya lontarkan dalam hati.

Pengirim pesan menyampaikan kepada saya bahwa Dini meninggal beberapa hari lalu.
Kaget, saya membalas pesan itu untuk menanyakan detailnya. Dini meninggal karena kecelakaan lalu lintas, tabrak lari. Kondisinya parah meskipun sudah ditangani dengan baik secara medis dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Kabar itu terasa tiba-tiba.
Saya memejamkan mata dan melangitkan do'a untuk dia yang menurut saya sudah merupakan satu dari teman-teman saya. 
Semoga Husnul Khotimah.

Dini adalah satu dari pengunjung rutin blog ini yang kemudian memilih untuk berinteraksi langsung dengan saya melalui email, menyapa dan menceritakan kegundahannya. Email-email itu membuat saya berkenalan dengan Dini dan setidaknya saya bisa sedikit banyak menerka seperti apa gadis itu di dunia nyata, meskipun toh belum pernah berjumpa.

Saya menelusuri media sosialnya, saya berteman dengan dia di media sosial juga. Saya juga masih ingat beberapa update-nya. Dini adalah satu diantara anak-anak perempuan seumurnya yang menurut saya belum terpapar life style anak millenial. Dia sederhana dan menyayangi keluarganya. Dini menjadi pengajar dan menghabiskan waktu dengan berinteraksi dengan siswa serta uji coba resep di dapur untuk orang tuanya. Itulah bayangan saya tentang Dini.

Update terakhir media sosialnya juga masih belum lama. Karena saya orang yang jarang menyentuh media sosial pribadi, maka saya selalu perpersepsikan mereka yang begitu juga sedang sibuk di dunia nyata. Sangat wajar seseorang lama tidak update di media sosialnya, toh juga bukan selebgram yang memang sudah bagian dari pekerjaannya untuk share daily life di media sosial.

Dan kabar ini menyentakkan saya. Menyadari pikiran saya yang tadinya kalut mengenai pekerjaan, pikiran yang harus selalu saya tata ulang agar tidak terasa berat di kepala. Menyadari bahwa yang saya pikirkan adalah sesuatu yang sementara. Sesuatu yang bisa saja besok tidak harus saya pikirkan lagi bukan lantaran berhentinya masalah namun karena saya yang sudah tiada dan harus pergi.

Kepergian Dini bukan sesuatu yang biasa bagi saya. Lebih besar dari kesannya selama hidup, seseorang yang saya kenal dari dunia maya dan menjadi dekat karena dengan percayanya dia bersedia membagi kegundahan hatinya kepada saya.

Tapi juga membangunkan saya dari realita bahwa betapa cepatnya waktu jatah hidup di dunia berlalu, bahkan tanpa kita sadari sudah akan berakhir. Saya pun tidak tahu berapa lama lagi jatah hidup saya masih tersisa.

Kamu akan tahu kemungkinan itulah yang terjadi, ketika jendela ini telah kosong dalam waktu lama.

1 comment:

  1. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...
    Sedih bacanya :( Terimakasih sudah menasehati melalui tulisan ini mbak.
    Kalo kepala lagi penuh banget sama masalah dunia, kayaknya memang gak ada yang lebih menenangkan dibanding dengan mengingat kembali bahwa semua ini sementara.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home