Tuesday, April 28, 2020

HARGA MAHAL SEBUAH KEBOHONGAN

Saya nggak pernah menduga bahwa ketidakjujuran bisa diikuti tragedi sehebat ini.
Kita terbiasa menganggap enteng kebohongan.
Bilang sudah otw setiap kali janjian padahal baru saja melangkah ke kamar mandi.
Bilang belum belajar ketika mau ujian padahal sudah seminggu dengan sabar kita rajin mengulang materi yang akan diujikan.
Kebohongan-kebohongan kecil yang mungkin hanya sedikit menimbulkan kerugian pada orang lain sehingga dengan mudah kita menganggapnya enteng dan membuatnya jadi bahan bercanda. Memang lucu karena banyak orang merasa related sebagai sesama pelaku, nggak lucu bagi teman yang on time dan sudah menunggu kita berlama-lama saat janjian.

Meskipun mengesalkan namun bohong itu termaafkan oleh komunitas, karena pelakunya banyak (tentu saja korbannya banyak). Tapi telat itu rasanya tidak nyaman, meskipun seringkali datang tepat waktu terasa berat. Apalagi kalau jam tubuh kita tidak sepakat dengan jam janjian. Sering saya alami karena saya tipikal homebody yang kalau pagi-siang nggak ada mood untuk keluar rumah. Bekerja sambil minum kopi rasanya lebih menarik untuk dilakukan. Makanya saya sering menghindari dan menolak pertemuan apapun yang diagendakan pagi-siang. Lagipula nggak enak kalau meninggalkan rumah sementara kepala masih membayangkan pekerjaan.

Memang besar kecil sebuah kebohongan tergantung pada akibat yang ditimbulkannya. Kebohongan-kebohongan dianggap kecil ketika menimbulkan dampak dan kerugian yang tidak seberapa dan sebaliknya kebohongan besar yang menimbulkan kerugian serta dampak yang besar layak dikatakan sebuah kejahatan. Misalnya penipuan dan yang baru-baru ini sering sekali terjadi di berbagai daerah di Indonesia adalah kebohongan status kesehatan.

Sungguh saya merasa marah setiap kali membaca berita tentang orang-orang yang berbohong terhadap status kesehatan dan riwayat perjalanan mereka. Kebohongan ini tidak sepele, ini kebohongan besar. Kebohongan ini dapat mengakibatkan nyawa orang lain dalam bahaya, wabah semakin tidak terkontrol dan kondisi krisis akan semakin lama berlalu.

Bisa-bisanya berbohong tentang hal yang seserius itu saat kita semua sedang disusahkan oleh COVID 19.

Perekonomian berjalan super lambat, nilai tukar USD tidak terkendali, bahkan nilai IDR kita berasa banget melemahnya tidak hanya ke USD tapi juga ke mata uang lain termasuk mata uang sesama negara Asia. Iya saya ngerasain banget ini. Seluruh dunia sedang sakit tapi yang paling terasa dampaknya ya tentu saja negara berkembang.

Banyak karyawan dirumahkan, pengusaha kebingungan mengusahakan pembayaran gaji karyawan sementara aktivitas usaha harus melambat bahkan berhenti sama sekali di masa pandemi.
Kita semua sedang sangat kesusahan tanpa tahu hingga entah kapan.

Dan saya nggak ngerti apa yang mendorong mereka untuk berbohong terhadap tenaga medis. Ada yang salah pada moralnya atau mungkin ada yang tidak berfungsi pada empatinya.
Entah apakah manusia masih bisa disebut manusia jika tidak berkemampuan untuk berempati?

Seharusnya tidak ada alasan untuk merasa malu ketahuan menderita penyakit yang baru-baru ini mewabah dan penularannya masih berusaha ditanggulangi oleh seluruh dunia. Ini toh bukan aib, penyakit ini adalah wabah dan bukan merupakan penyakit yang diderita karena melakukan dosa besar sehingga kita patut malu karena sakit.

Tapi jelas kita harus jujur karena ini menyangkut kesehatan dan nyawa bagi banyak orang. Dalam hemat saya ketika memang sakit, ya jujur. Rasa takut kita akan usia yang sebentar lagi mungkin harus tutup kudunya lebih besar ketimbang rasa takut akan malu. Dalam kebohongan itu, manusia bisa jadi tidak tahu, tapi tidak ada yang luput dari Allah.

Sementara kebohongan itu tidak main-main, dapat menyebabkan nyawa kita sendiri dalam bahaya karena terlambat ditangani dan bisa menularkan ke banyak orang yang hanya berusaha menolong kita agar kembali sehat. Jahat banget ya?
Orang masih bersikeras berbohong sementara tenaga medis berjatuhan menjadi korban dari kebohongan itu. Banyak diantara mereka yang meninggal.
See? Kebohongan bukan hal yang sepele. Karena bohong, ada yang sakit dan meninggal akibat kebohongan kita. Apakah layak nyawa menjadi harga yang harus mereka bayar untuk sebuah kebohongan yang kita lontarkan?
Itu termasuk pembunuhan nggak sih? *silakan koreksi yang punya pendidikan hukum lebih baik dari saya*

Kalaupun umur kita ditakdirkan pendek, itu nggak apa-apa. Selama kita tutup usia dalam kondisi yang tidak menyebabkan kerugian terhadap orang lain, tidak menyusahkan orang lain dengan sengaja. Ya paling tidak kita meninggalkan dunia ini tidak dengan beban berat pertanggungjawaban di akhir usia yang membuat kita tidak punya nyali menempuh perjalanan di alam setelah kematian.

Oke, tugas meyakinkan bahwa penyakit ini bukan aib tidak hanya bagian dari tanggung jawab beberapa orang saja, tapi kita semua. Selain kebohongan egois yang menyebabkan jatuhnya banyak korban, kita masih harus sakit kepala dengan reaksi masyarakat yang... gimana ya? Serius saya nggak tahu mana yang lebih gawat, masalah kebodohan dan krisis moral ataukah pandemi?

Periode krisis dalam bentuk apapun memang memiliki kekuatan untuk mengeluarkan sifat-sifat buruk manusia. Entah apakah wajar insting manusia dalam bertahan hidup menyebabkan mereka kehilangan akal sehat dan kualitas mendasar sebagai manusia?

Serius deh bisa nggak sih yang bohong-bohong soal kondisi kesehatannya apalagi menyebabkan korban jiwa itu dihukum pidana aja biar nggak ada yang 'terinspirasi' melakukan hal yang sama?
Heraannn.... dalam kondisi nyawa diujung tanduk masih kepikiran untuk jahat sama orang lain :(
Malunya sama Allah dong harusnya, bukan sama manusia lain yang gagal paham ngira ini penyakit aib atau pertanda kena adzab.

Heran banget ketika pernah baca cerita netizen kalau dia pakai masker, tetangga-tetangga pada ngegibahin dan ngatain lebay. Bacanya doang bikin saya mau maraaaah >.< eh tapi lagi puasa astagfirullah!

Semoga lingkungan pertetanggaan teman-teman nggak gitu ya. Semoga pandemi ini segera berlalu.
Semoga Allah beri kita kekuatan untuk melalui ini semua.

Kadang saya bertanya-tanya apakah ini karena kita cenderung mewajarkan kebohongan dalam kehidupan sehari-hari? Terlalu menganggap enteng dan menganggapnya bagian dari dosa kecil yang tak layak dianggap serius?
Padahal toh dosa yang kita anggap kecil itu kalau terus menerus dilakukan juga akan besar juga, diluar kemampuan kita untuk bertanggung jawab atasnya. Serta rasa sepele kita terhadap kebohongan kecil sehingga tanpa sadar kita wajarkan dalam keseharian, saking terbiasanya kita sudah tidak memiliki kontrol diri dan penolakan terhadap keinginan untuk berbohong. Ibarat moral dan hati nurani yang menjadi imunitas kita telah terbiasa dilemahkan dengan kebohongan sehingga kita merasa menambahkan satu kebohongan besar pun tidak masalah.

Tidak peduli akibatnya, tidak peduli apakah akan menyakiti dan merugikan orang lain atau tidak.

2 comments:

  1. Saya sempat baca berita, ada ODP, disuruh pulang dan mengisolasi diri di rumah, tapi lingkungan sekitarnya tidak menerima, malah diusir. Ada juga yang diusir dari kontrakannya, ada juga yang digosipin sampai akhirnya enggak nyaman dan down (yang akhirnya ngaruh ke fisik). Jadi sebenarnya, menurut saya, mereka terpaksa berbohong untuk menghindari hal-hal semacam itu. Apalagi masih banyak orang yang tidak mendapat edukasi memadai terkait wabah ini. Bagaimanapun, berbohong tidak dibenarkan. Saya hanya mencoba melihat dari sudut pandang yang lain. CMIIW.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya tentu saja, saya paham poin Firman
      karena itu edukasi terkait virus ini kepada masyarakat menjadi tanggung jawab kita semua. karena dampaknya akan semakin parah dengan minimnya edukasi, informasi dan kebodohan.

      permusuhan dari masyarakat terhadap penderita bukannya malah didukung untuk isolasi mandiri hanyalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak

      pengusiran/segala bentuk permusuhan>kebohongan>interaksi bebas tanpa pembatasan >penularan>pasien membludak
      pasien berbohong>tenaga medis melakukan penanganan tanpa alat bantu yang seharusnya>tenaga medis tertular/meninggal>kurangnya tenaga medis yang dapat menangani pasien>pasien makin banyak, penularan meluas>pasien banyak tidak tertangani

      ketika usia sedang diujung tanduk, disitu adalah bentuk pengambilan keputusan krusial diri kita sendiri. Mau kematian yang seperti apa, atau mau hidup yang seperti apa?
      Memang kita mau hidup yang bagaimana, mau mati yang bagaimana adalah pilihan kita. entah kita mau memilih untuk dzolim pada orang lain, menyusahkan orang lain dan menyebabkan kematian orang lain dengan sengaja adalah pilihan kita.
      manusia tidak hanya terlahir dengan ego, tapi ada sebongkah hati yang menyertai fisiknya.

      Lebih baik tidak mengambil tanggung jawab diluar batas yang mampu kita tanggung. Contohnya tanggung jawab terhadap kesusahan orang lain yang kita timbulkan dengan sengaja.

      Hidup ini toh cuma sebentar saja.

      Delete

Previous Page Next Page Home