Wednesday, January 18, 2012

Memandang dan Melihat

ini cuma satu gambar,
dan kita bisa menjabarkannya menjadi 
potongan-potongan kecil cerita yang bisa jadi
tidak saling berhubungan

Pada masa PK2Maba atau nama lainnya ospek angkatan tahun 2007 di fakultas saya dan kami semua duduk di kursi dalam kelas menyaksikan presentasi trainer di depan kelas. Dalam salah satu sesi kami mempelajari tentang paradigma, saya melihat sebuah gambar dan langsung berpikir bahwa gambar tersebut berwujud wanita cantik yang memakai topi indah dan gaun eropa zaman victoria, sementara teman-teman saya yang lainnya hampir satu kelas menyatakan bahwa itu gambar seorang nenek tua.

Sejenak saya bingung, apa mata saya yang rabun ataukah memang kadar kewarasan saya mengalami penurunan sementara kadar kebodohan mengalami fluktuasi gila-gilaan? Atau mungkin wanita cantik itu sudah berumur tua dan teman-teman saya berhasil mengetahuinya dengan gemilang? Hal yang tidak dapat dengan bagus dilakukan seseorang yang sering tidak tahu hari ini hari apa dan tanggal berapa seperti saya.

Ketika trainer menanyakan apa yang kami lihat dari gambar itu, saya menjadi semakin bingung dan di akhir kebingungan itu saya memutuskan untuk mengikuti pendapat terbanyak saja. Saya ikut-ikutan menyatakan bahwa saya melihat sesosok nenek tua. Salah satu teman saya diminta trainer untuk menunjukkan bagaimana dia bisa menyatakan kalau itu gambar nenek tua? Dia menunjukkan sebab-sebab bagaimana dia memperoleh pemikiran itu dengan cara menunjuk bagian-bagian dari gambar yang mendukung pernyataannya dan saya melongo. Oh ya ampun, saya baru saja menyadari bahwa bentuk yang saya dan dia lihat dalam satu gambar tersebut berbeda. Kesimpulan yang berbeda pada gambar yang sama. Yang dia tunjuk sebagai hidung di gambar yang dia pikir berwujud nenek tua adalah bentuk yang saya lihat sebagai gaun pada wanita berbaju Victoria (kalau saya tidak salah ingat, yah pokoknya berbeda).

Namun pada waktu itu saya masih berpikir kalau kesimpulan saya yang salah dan saya masih saja mengikuti suara terbanyak, mendukung pendapatnya dan sebagian besar teman saya yang memiliki pandangan sama dengan si penjelas.

Setelahnya, trainer menjelaskan bahwa gambar itu bisa mempunyai enterpretasi yang berbeda tergantung siapa yang melihatnya, bisa ada yang mengira cuma coretan tidak penting di kertas, wanita cantik bergaun, atau nenek tua seperti yang dipikir teman saya itu. Dan saya sadar sesadar-sadarnya ketika saya mengingatnya saat ini kalau saya telah menghianati diri saya sendiri waktu itu, dan juga hati saya, dan juga pandangan saya sendiri. Bahwa saya salah karena lebih memilih membela pendapat orang lain dan membunuh pendapat saya. Sementara it sudah berapa kali hal itu terjadi pada diri saya??? Entah. Karena satu-satunya yang saat ini saya ingat adalah momen itu. Mungkin cuma sekali itu, mungkin banyak kali saya pernah demikian.

Sekarang saya jadi bertanya-tanya, apakah saya saja yang melihat gambar itu sebagai gambar wanita cantik ketika pertama kali melihatnya atau adakah orang lain lagi dalam lingkup kelas kami? Orang lain yang entah diam ataukah berkhianat seperti saya dengan memihak pendapat orang lain.
Orang yang juga membunuh paradigmanya sama seperti saya.
~

15 comments:

kazvampires said...

saya juga pernah melihat gambar seperti ini teh :D. gambarnya mengecoh.

Jiah Al Jafara said...

kalo dilihat, gambarnya macem"....
aku juga pernah liat gambar kaya' itu :-D

R10 said...

saya justru melihat sebagai kakek tua seperti johny depp versi tua :D

attayaya said...

itu mengenai image / optical illusion ya
uji psikolog
gimana cara kita memandang sebuah gambar.
beda sudut pandang, beda hasil

coba lihat yg ini
http://www.123opticalillusions.com/

dan banyak website lainnya

Arif Chasan said...

saya juga pernah tuh.. :D

tapi saya jadi bagian yg banyak.. :D
padahal pengen loh jadi non mainstream.. XD

TS Frima said...

pada dasarnya manusia cuma mau merasa nyaman. lain sendiri itu tidak nyaman, jadi kita membunuh paradigma kita agar tidak lain sendiri; agar merasa nyaman. manusiawi kan.

Mr. Nya' said...

gambar di atas apa ya,?
orang bertopi dan berkumis
betul ???

Gaphe said...

kalo saya melihatnya jadi inget willy wonka deh Nin.. seriusan.. itu topi tinggi, trus kumisnya.

vie_three said...

aku melihatnya sebagai kepala laki-laki berkumis tebal dan memakai topi tinggi ala pesulap.

Irma Senja said...

kadang kita menghianati diri sendiri krn tuntutan lingkungan atau lain hal, tp diakhir biasanya akan timbul penyesalan.

baiknya tentu saja mendengarkan suara hati kita yg sejujurnya....

A. Hermana said...

assalamualaikum..
saya juga tertipu setelah hanya melihat keseluruhan saja.
owh ternyata banyak gambar lain. :
sehingga tak sadar telah membunuh ide sendiri
salam

Unknown said...

aku malah ngeliatnya kek kakek2 kumisnya lebar 'n tebel.. hihi..

Richie BINADIKA said...

Ikut menyimak artkelnya Gun :-)

Salam,

Annesya said...

maak ga boleh gitu lagi. dare to be different bukan hanya diam di pojokan tak terlihat dan menjadi berbeda diam2. dare to be different itu berani menyatakan keberbedaannya.
saya juga sering gitu pas kuliah. waktu semua anak berpendapat prostitusi sebaiknya ditutup saja karena tidak sesuai dengan moral agama, saya malah berpendapat, prostitusi itu harus ada agar bisa mengurangi tingkat pemerkosaan gadis2 yang tidak bersalah. seluruh kelas memandang saya aneh, freak, gendeng.
eh dosen sosiologinya malah ketawa dan bilang pendapat saya bener.
dam itu sering terjadi, perbedaan pendapat dengan yg lain. jangan minder maak, kau seksi dan jahat. teruskan bakatmu #eh

Millati Indah said...

Sekilas malah kaya badut pake topi.

Previous Page Next Page Home