Friday, July 26, 2019

MASALAH MATA KERING YANG SERING TERJADI PADA PEKERJA DIGITAL, SAY BYE DENGAN INSTO DRY EYES

Sudah lama ih nggak buka LinkedIn, gara-gara notifikasi pertemanan dari beberapa orang yang saya beneran kenal di dunia nyata maupun dari lingkaran jejaring yang sama, saya jadi buka akun saya yang sudah lama nganggur tanpa update apapun itu.

As you know, sebenernya nggak ada yang menarik banget juga sih dari LinkedIn, selain growing professional circle. Tapi ngelihat profil diri sendiri juga jadi cukup nostalgia, karena kan masih ada data lengkap kapan saya lulus kuliah, pengalaman kerja saya dan cerita agak banyak terkait gimana awalnya saya mulai jadi blogger yang (agak) professional. Masih kebayang aja jaman butuh uang buat biaya hidup dan kuliah, dari bayaran berupa transferan paypal yang ditarik ke rekening bank lokal, partneran pertama bareng agency dan brand besar dan seterusnya. Saya jalani sambil kerja meskipun jungkir balik, waktunya pulang kantor istirahat malah harus kerja urusin blog atau hari libur bukannya refreshing malah bikin draft tulisan.

Karena waktu itu sifatnya side job atau hobi yang menghasilkan, saya cukup seneng meskipun per bulan penghasilannya nggak bisa dibandingkan dengan gaji saya saat itu. Bisa buat beli gamis tanpa ngutik gaji juga sudah alhamdulillah banget kok.

Saya pikir selamanya blogger akan menjadi side job saya, nggak kepikiran untuk jadi full time job saat saya resign dari kantor. Sederhananya ya... menurut catatan saya, biaya hidup dibanding dengan fee Blogger sepertinya defisit parah. Itung-itungan manusia sih, ya begitu deh. Meskipun saya kenal beberapa teman yang full time Blogger dan sepertinya cukup aja, nggak punya masalah keuangan yang ribet-ribet, pikiran saya nggak berubah. Mengira bahwa itu toh mereka, yang jobnya sangat bejibun dan sudah master dalam hal mengelola dan membisniskan segala aspek peluang blog mereka. Beda sama saya lah ya pokoknya.

Bulan-bulan pertama resign saya masih belum memutuskan untuk benar-benar serius menjadi full time blogger, jadi ya masih fokus finding new job yang sesuai skill dan CV semasa masih di korporasi. Ada banyak pertimbangan saat itu, salah satunya adalah dengan menjadikan blogger sebagai pekerjaan penuh waktu, saya khawatir akan kehilangan salah satu hobi saya. Saya menganggap bahwa hobi apapun bisa jadi berakhir setelah kita menjadikannya pekerjaan. There's no 'hobi yang dibayar' in my world. Hobi ya hobi, kerjaan ya kerjaan.

Sampai akhirnya setahun setelah saya nggak lagi ngantor, sepulang dari meeting negosiasi gaji dengan salah satu perusahaan yang lagi-lagi nggak mulus, dalam perjalanan pulang saya mikir banyak banget. Terutama tentang mengapa nominal bisa jadi sesuatu yang penting buat saya. Barangkali sederhananya, saya nggak mau downgrade, pengalaman kerja saya juga nggak sepele. Background akademik dan skill juga jauh dari abal-abal. Saya butuh biaya untuk bekerja, pakaian kerja, transportasi, biaya makan dan semuanya itu adalah anggaran wajib yang harus dikeluarkan dari gaji. Dengan kesepakatan yang ditawarkan dari perusahaan yang berbeda, sepertinya saya nggak bisa afford semua budget standar saya. Kemungkinan harus memangkas habis perencanaan keuangan pribadi yang lalu-lalu.

Eh tunggu, lantas apa bedanya dengan saya kerja di rumah? Nggak perlu punya banyak pakaian kerja,  bisa memangkas habis budget makan siang karena bisa makan dari masakan sendiri, tanpa biaya transportasi, paling cuma pemakaian listrik lebih boros aja.

Singkatnya saya memutuskan bekerja di rumah sebagai full-time blogger. Untuk yang sudah lama mengikuti blog ini pasti ngeh kalau selain blogger saya juga sempat bekerja sebagai blog-template-customizer dan content writer. Saya juga cukup aktif mengikuti lomba blog saat itu. Dan kesemuanya pekerjaan itu serba digital sehingga mengharuskan sebagian besar waktu saya menatap layar baik laptop maupun ponsel.

Dari pagi sampai malam mau tidur bekerja depan layar terus, mata perih karena kerja mulu jarang istirahat. Saya cuma nggak ngelihat layar kalau lagi makan, masak di dapur, beresin rumah, di kamar mandi dan tidur. Bahkan tidur pun saya mimpi lagi kerja depan laptop haha. Antara bawaan workaholic dan ngerasa memang saya harus kerja keras karena baru saja memulai so-called karir saya sebagai self-employed. Karena self-employed nggak punya jenjang karir vertical, pilihannya adalah menciptakan karir horizontal. Dengan mengekspos sebanyak mungkin skill apapun yang dimiliki.

Seperti yang saya bilang di awal tulisan ini, perhitungan manusia dan Allah jelas berbeda. Berhenti bekerja di korporasi tidak membuat rezeki kita terputus kok, akan terus Allah alirkan dari berbagai arah. Saya ngerasa penghasilan saya cukup memadai, bahkan untuk jajan-jajan kalau lagi sibuk dan nggak punya cukup mood untuk masak. Meskipun mungkin nilai nominalnya berbeda, tapi dari segi kecukupan... nggak banyak perubahan menurut saya pribadi. Saya mencintai pekerjaan baru saya dan menyukai tiap langkah prosesnya, meskipun saya harus bekerja sendiri dari awal hingga akhir.

Masalahnya, badan juga bisa lelah dan sakit karena nggak dijaga dengan baik. Terutama mata yang paling berasa banget kerja kerasnya. Saya ngerasa mata saya cepat ngerasa pegal lama-kelamaan setiap harus kerja. Bentar-bentar harus break karena mata sepet. Nggak seperti dulu, tetep prima meskipun kerja lembur dan baru tidur saat dini hari tapi oke aja dan mata pegel juga enggak sama sekali. Belakangan pokoknya berasa sepet, pegel dan perih berada di depan layar. Bikin satu posting aja kudu istirahatin mata beberapa kali biar nggak sepet.

Puncaknya, mata saya kelelahan dan nggak bisa baca tulisan apapun di jalan jika pada tulisan itu terpasang lampu. Di mall yang terang benderang juga, semakin terang lampunya saya jadi makin kesulitan membaca tulisan. Sampai-sampai kalau ketemu teman yang saya kenal tapi dia berdiri dekat dengan cahaya terang, saya kesulitan mengenali wajahnya sebelum berdiri lebih dekat. Padahal mata saya normal loh.

Gara-gara ketemu teman tapi nggak mengenali dia berhubung mata saya rada bermasalah, kami jadi ngobrol-ngobrol. Saya minta maaf nggak langsung balas menyapa karena nggak mengenali dia, belakangan mata berasa cape banget. Ketika ngobrol-ngobrol itu dia menyarankan saya pakai Insto Dry Eyes. Dia juga pakai, sangat membantu mengatasi masalah mata pegel dan sepet yang juga sering dia alami ketika bekerja dalam ruangan dan terpapar AC.

Hmm... rupanya mata yang berasa pegel, sepet  dan perih itu karena mata kita kering dan tidak terhidrasi dengan baik. Bisa karena menatap layar gadget terlalu lama (seperti saya dan saya yakin teman-teman pekerja digital atau bidang lain yang sering berinteraksi dengan layar pasti banyak yang mengalami hal serupa deh), terlalu fokus sampai sering lupa berkedip saat melakukan sesuatu misal seperti menyetir atau terkena paparan AC seperti yang teman saya alami.

Mengapa Insto Dry Eyes? Kenapa bukan Insto yang biasa aja?
Insto Dry Eyes memang diformulasikan khusus untuk mengatasi mata kering dan meringankan iritasi pada mata yang disebabkan mata tidak terhidrasi dengan baik dan kekurangan produksi air mata. Jadi sifatnya seperti air mata gitu manteman, memberikan efek pelumas untuk menghidrasi mata kita yang kering.
Harganya affordable, cuma 14,000 IDR ajah, jadi oke banget buat dibeli untuk persediaan obat-obatan di rumah. Kalau saya pribadi selain punya Insto Dry Eyes di rumah jika sewaktu-waktu ngerasa perlu, terus terang saya juga jadi mengurangi lingkup pekerjaan saya di bidang digital dan memutuskan untuk menggunakan analog lebih sering. Contohnya jika ada ide posting, ide tulisan atau catatan apapun sehari-hari, alih-alih mengetiknya di file atau draft blog seperti biasa, saya membiasakan untuk selalu menulis di buku catatan.

Buku catatan yang biasanya saya pakai hanya untuk catatan planning agar nggak kelupaan, menulis isi kepala ketika solitude moments di cafe sendirian, sekarang saya pakai setiap hari untuk kebutuhan blogging juga. Analogue life and Insto Dry Eyes menyelamatkan saya dari masalah mata lelah yang sebelumnya saya rasakan setiap hari.

Apa teman-teman punya masalah mata yang sama seperti saya juga? Apa yang teman-teman lakukan untuk mengatasi masalah mata kalian? Apa sudah cobain Insto Dry Eyes juga? Cerita dong... :)

1 comment:

Previous Page Next Page Home