Wednesday, July 17, 2019

DIET PLASTIK SAAT BELANJA, JADIKAN MAINSTREAM YUK!

Isu sampah memang bukan hal baru, tapi senang banget akan tumbuhnya banyak komunitas yang mewadahi para pecinta lingkungan dan orang-orang biasa seperti saya yang masih terus belajar hidup minim sampah.

Menyebarkan gaya hidup minim sampah bukan karena sok cinta lingkungan kok, tapi untuk spreading awareness. Kita semua tentunya berawal dari ketidaktahuan, berawal dari nol. Hingga akhirnya kita melihat banyak berita yang bertebaran di media sosial baik dari akun-akun bertema sejenis maupun dari teman di lingkar pertemanan kita.

Saya pun tersadar akan hal ini dari akun seorang teman yang sering membagikan pengalamannya dalam rangka bertanggung jawab atas semua sampah rumah tangga yang dia hasilkan. Dari situ akhirnya jadi tahu, browsing banyak informasi terkait dan menjalani apa yang saat ini saya jalani.

Nggak perlu muluk-muluk mempengaruhi orang lain dulu, yah itu bonus. Yang paling penting dengan membagikan apa yang kita usahakan adalah merupakan usaha untuk mendidik diri kita sendiri. Untuk bertahan dengan apa yang kita lakukan, bahkan sebisa mungkin berupaya lebih banyak untuk lingkungan.

Percaya deh, alam selalu punya tahap recovery-nya sendiri. Apapun yang terjadi alam akan tetap ada meskipun dengan banyak perubahan di atasnya. Pertanyaannya adalah... apakah kita sanggup bertahan hidup dengan alam yang mengalami kerusakan karena ulah kita sendiri?

Bagi yang mengira gaya hidup minim sampah dan puasa plastik adalah hanya tentang kepedulian terhadap hewan liar. Nope. Kita juga termasuk dalam lingkaran itu. Akibat besarnya akan merambat ke kita, cepat atau lambat.

Sekarang saja, tanpa sadar kita bisa makan jumlah plastik yang sama dengan sebatang pulpen dalam kurun waktu seminggu karena tanpa sadar bahwa apa yang kita makan sudah terkontaminasi dan mengandung microplastic. Serem ya kan?

Lantas harus gimana?

Mulai dari yang paling mudah: puasa plastik. Kurangi jumlah plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Belanja makanan dalam bentuk bulk dan masih dalam kondisi tidak berkemasan. Sudah banyak bulk store saat ini kok, kalaupun nggak ada, masih ada bulk store yang paling mudah dijangkau dari tempat tinggal sekaligus juga murah meriah yakni pasar tradisional.

Saya seneng banget belanja ke pasar. Selain murah dan dapet banyak, mayoritas item belanjaan nggak berkemasan. Jadi cukup membantu saya yang pemalas dalam hal memilah sampah plastik ini.
Seperti yang saya sampaikan di posting less-waste sebelumnya: cara agar nggak repot mebersihkan sampah, memilah dan menyalurkan untuk daur ulang adalah dengan cara nggak menghasilkan sampah. Mudah kan?

Baca juga: A SMALL STEPS TO LESS WASTE LIFESTYLE

Dalam prakteknya pasti nggak bisa 100 persen, saya juga masih beli kecap berbotol plastik, mie instan dan sebagainya kok. Tapi jika ada yang tanpa kemasan, saya selalu pilih yang tanpa kemasan. Seperti dalam foto diatas, saya beli ikan bandeng, tahu dan asam jawa. Dengan membawa wadah sendiri dari rumah, saya berhasil mengurangi 3 lembar kantong plastik disini.

Pada awalnya mungkin susah ya, kebanyakan orang sudah terbiasa ke pasar dengan tangan kosong hanya bawa dompet aja, pulangnya penuh tentengan kantong plastik dan pastinya bukan hal yang biasa. Tapi lama-lama pasti nemu nyamannya deh. Karena repotnya cuma pas berangkatnya aja, selanjutnya... sampe rumah kita bakalan bersyukur sudah bawa wadah sendiri.

Berbelanja dengan wadah sendiri berarti:
  1. Sampai rumah kita tinggal masukkan belanjaan ke kulkas. Cepat dan mudah. Effortless dan pastinya kulkas terlihat bersih dan rapi tanpa tumpukan kantong plastik belanjaan. Mempermudah proses yang mau meal-prep juga karena nggak usah bongkar-bongkar wadah belanjaan dulu.
  2. Lebih sehat karena menyimpan makanan langsung di wadah bersih, bukan di kantong plastik yang mengandung zat berbahaya apalagi bersentuhan dengan bahan makanan langsung yang hendak kita konsumsi.
  3. Bebas rasa bersalah karena menghasilkan sampah.
  4. Pastinya tidak perlu mencuci, menyortir dan menyalurkan sampah.

Apa teman-teman sudah belanja dengan wadah sendiri tanpa kantong plastik tambahan? Kalau belum yuk mulai dan jadikan kebiasaan ini mainstream! :D

2 comments:

  1. Yeap, bener. Terasa repot di awal, tapi ketika sudah sampai rumah dan 'mengurai' dari kantong belanja rasanya lega tidak bawa banyak plastik pulang ke rumah. Kalau dipikirkan nih, misal dalam satu kompleks cuma kami daong, tetangga yg lain engga (masih ga aware ttg plastik), rasanya--wah ga guna. But why not starting from our self, right?

    Thank you kak for writing this :D

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah aku juga lagi memulai zero waste, Mbak. Ada penjual yang malah seneng ketika aku nggak pake kresek, karena nguntungin mereka yang nggak perlu belanja plastik. Sebenarnya gitu. Tapi ada juga penjual yg ngeyel ttep pakai plastik, aku jelasin pelan2 kalau aku udah bawa tas dan wadah aja cukup. Kadang masih dielak, emang muat mbak di wadahnya? Aku yakinin kalo muat dan bisa.

    ReplyDelete

Previous Page Next Page Home