Monday, July 20, 2020

RESIKO PERNIKAHAN

Suatu hari suami cerita dan meminta izin saya untuk bertugas di ruang isolasi pasien COVID-19.
Saya sedikit kaget tapi ngga bereaksi banyak.
Dengan realita kejadian di banyak rumah sakit di negara ini sudah tidak asing kejadian pasien yang berbohong terkait riwayat perjalanan dan keluhan kesehatannya. Beberapa kalipun pasien yang dia rawat juga ternyata positif COVID-19.

Bertugas di ruang isolasi tidak banyak bedanya dengan menjalani aktivitas normal merawat pasien. Sama resikonya. Memang lebih besar secara perhitungan tapi juga lebih penuh persiapan dalam menghadapi faktor resikonya juga.

Yang saya jawab ketika dia minta izin juga tidak banyak. Saya sampaikan bahwa saya mendukung apa yang akan dia lakukan meskipun tentu saja itu beresiko.  Baik beresiko secara kesehatan maupun emosional karena dia tidak akan pulang ke rumah dalam jangka waktu tertentu.

Barangkali jawaban saya cukup aneh karena tidak tampak setidaknya menolak atau keberatan, bahkan mengajukan syarat juga tidak.

Sehingga kemudian ini yang akhirnya saya sampaikan kepada dia, "Sekian bulan sebelum menikah, saya sudah memikirkan resiko ini. Memang tidak dalam bentuk COVID-19. Tapi pastilah ada suatu masa saya harus siap dengan kemungkinan bahwa yang saya nikahi adalah tenaga medis yang in touch dengan pasien dengan beragam penyakit. 

Beberapa mungkin hanya menyita waktu atau tenaga, tapi beberapa yang lain mungkin juga akan menyita kesehatan utuh atau bahkan keselamatan. Apa saya ngga takut dan khawatir? Tentu saja! Itulah mengapa beberapa bulan sebelum pernikahan saya tetap istikharah setiap hari agar beroleh kemantapan hati. 

Dan sampailah saya pada hari pernikahan kita. Hari dimana saya paham bahwa saya tidak hanya menikah dengan orang yang kemudian menjadi suami saya, saya juga 'menikah' dengan segala resiko yang mungkin ada dikemudian hari. Sebagian sudah saya perkirakan, sebagian besar hanya Allah yang tahu.

Dengan keputusan saya menikah saat itu, berarti saya sudah siap akan datangnya hari ini. Dan saya masih tidak berubah pikiran untuk menolak atau melarang apa yang akan suami saya kerjakan. Mengapa berubah pikiran dan berbalik melarang bila suami saya hendak turut serta dalam sesuatu yang baik?

Bukankah dalam pernikahan ini kita beribadah bersama dan saling mendukung jika dalam kebaikan?"

Ya, ketika hendak menikah atau berangan-angan tentang pernikahan mungkin banyak dari kita yang masih hanya memikirkan kebaikan-kebaikan pasangan yang hendak kita nikahi dan alasan baik apa yang membuat kita yakin menikah. Nggak salah untuk mikir begitu sih, sangat manusiawi. 

Tapi kadang kita lupa mempertimbangkan bahwa kita memutuskan berikatan dengan semua kebaikannya berarti kita juga sudah terikat dengan apa yang mungkin tidak kita sukai atau tidak menyenangkan dari dia. Dan itu tetap harus menjadi pertimbangan kita jauh sebelum memutuskan untuk menikah. Mungkin nggak semua kita bisa hadapi, beberapa harus dengan kompromi. Namun ya paling tidak kita sudah punya gambaran apa yang hendak kita hadapi di kemudian hari ya kan? 

Agak out of the topic, tapi selama ini saya memang berusaha nggak mengeluarkan banyak statement terkait pandemi di lahan publik meskipun kadang ada saja teman yang nanya. Saya berusaha hati-hati dengan ini dan tidak mengeluarkan pendapat-pendapat yang kiranya diluar posisi saya sebagai masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki background pendidikan di bidang kesehatan. Meskipun suami tenaga medis, tapi saya tetap orang diluar bidang itu yang tentu saja sebaiknya ngga berpendapat sembarang. Pendapat saya pun juga ngga ada pentingnya sih karena kompetensi saya kan memang bukan disitu.

Saya tidak habis pikir dengan public figure yang mereka ini nggak punya latar belakang pendidikan di bidang kesehatan, berarti mereka juga bukan ahlinya di bidang itu tapi terus saja mengumbar isu bahwa virus ini hanya konspirasi. Terlebih opini bahwa virus ini ada tapi tidak seberbahaya yang dibicarakan. Seperti mementahkan perjuangan tenaga medis yang setiap hari berkutat dengan APD. Bersih-bersih sebelum masuk rumah. Memisahkan pakaian dan benda-benda dari rumah sakit agar tidak masuk rumah. Bahkan banyak yang memilih untuk tidak pulang ke rumah selama berbulan-bulan. Itu belum ditambah khawatir tertular dan menjadi carrier untuk orang-orang terdekat.

Serius deh kalau mau egois, keluarganya juga ngga mau kali para tenaga medis ini meresikokan diri merawat orang sakit dengan potensi penularan tinggi. Tiap hari kuatir mengingat satu persatu tenaga medis berjatuhan baik karena tertular atau berdampak fatal sampai meninggal. Dan salah satunya bisa jadi keluarga kita.

Mungkin mereka baru bisa berhenti melantur kalau satu persatu orang yang mereka kenal atau pernah bertemu, gugur tanpa peringatan. Meninggal dan dikebumikan sendirian dalam kondisi yang diluar kebiasaan. 

No comments:

Post a Comment

Previous Page Next Page Home