Friday, February 3, 2012

ALPHA WIFE DALAM REALITA

Dari posting sebelumnya, Arif Chasan yang suka mengomentari blog saya meskipun dia sendiri malah jarang posting memberi komentar yang membuat saya tertarik... polos banget tapi benar juga :
dan.. setiap laki-laki pasti bakal segan kalau berhadapan sama perempuan mapan. dan yg melamarnya pun pasti setidaknya tau diri dan berpikir "saya setidaknya harus lebih atau nggak sejajarlah, baru berani buat ngelamar".. :D
Seperti yang dikemukakan Arif, ada orang-orang tertentu yang tidak bisa menerima perbedaan bahwa wanita bisa saja menjadi breadwinner bagi keluarganya, bisa saja dia berpenghasilan jauh lebih tinggi dari suaminya. Saya pikir ini karena kita hidup dalam lingkungan yang membuat kita berpikir demikian. Bahwa wanita harus tidak lebih tinggi dari lelaki dalam hal posisi atau jabatan ketika bekerja atau dalam menghasilkan uang menghasilkan uang. Entah dibentuk dari sisi egois lelaki yang tidak suka merasa dikalahkan atau apa.

Saya pikir dunia sudah banyak mengalami perubahan seiring jaman.
Dan dalam putaran hidup bukan cuma wanita saja yang diuji, lelaki bisa jadi diuji dalam bentuk-bentuk kesabaran untuk melapangkan hatinya.
Semasa hidupnya ibu saya pernah cerita tentang seorang guru SD yang menikah dengan seorang polisi wanita berjabatan tinggi. Orang kebanyakan tentu akan memandang itu sebagai salah satu contoh keunikan dalam hubungan lelaki sebagai tokoh utama dalam keluarga dan wanita adalah semacam peran pendukung.
Mengapa tidak?
Dua orang yang saling mencintai dan memutuskan hidup bersama dalam pernikahan pastinya punya banyak pertimbangan serta usaha penekanan ego karena hal yang paling penting bukan 'menjadi yang utama diantara yang lain' namun bagaimana untuk mendapatkan yang terbaik dari kebersamaan. Pemeran utama bukan seorang lelaki atau seorang perempuan, menurut saya yang paling baik adalah keduanya harus saling mendukung peran utama masing-masing.

Dalam contoh nyata adalah Tante dan Oom saya, Tante saya jauh lebih sibuk dari Oom saya yang bisa sering di rumah tapi keduanya bisa mengatur rumah tangga dengan sedemikian baik, masing-masing saling mendukung peran yang lain dalam rumah tangga sehingga segalanya mampu berjalan dengan sangat baik.

Ngomong-ngomong saya jadi teringat dengan sebuah novel bagus yang pernah saya baca, judulnya ALPHA WIFE. Novel yang bagus dengan ide yang segar. Bercerita tentang seorang pemimpin di majalah wanita populer yang sangat gemerlap bersuamikan guru SMA. Dia sering menerima tekanan dari orang-orang sekitarnya hingga dia berulang kali membujuk suaminya (yang pintar namun mencintai pekerjaan mengajarnya) untuk berganti pekerjaan karena malu. Berulangkali pula suaminya menolak sehingga mereka sering bertengkar dan terancam berpisah. Saat bertengkar dan suaminya pergi dari rumah karena sangat marah lucunya mereka jadi saling merindukan dan menyadari bahwa segalanya berjalan dengan baik karena selama ini mereka bersama dan saling mendukung. Suaminya menyadari bahwa banyak hobinya, kemampuan ekonomi di rumah mereka dapat terpenuhi karena kerja keras istrinya. Istrinya menyadari bahwa kehidupan di rumah berjalan stabil karena suaminya yang telaten mengurusi biaya air, listrik, pertemuan RT serta memperbaiki alat rumah tangga yang rusak. Banyak fungsi rumah tangga yang berjalan dengan baik karena suaminya, dan dia yang tidak familier dengan semua itu bahkan tidak tahu menahu sehingga semuanya berantakan. Ketika berpisah itu mereka sama-sama menemukan kerinduan. Terlebih ketika seusai si istri melakukan wawancara dengan seorang Direktur wanita kaya raya sementara keluarganya pun berjalan baik dan stabil. Kurang lebih seperti ini isi wawancaranya:
"Saya merasa tanpa papanya anak-anak saya tidak bisa menjadi sekarang. Saya sejak muda cuma tahu yang namanya bekerja dan papanya anak-anak tahu itu. Dia yang menjalankan rumah tangga sehingga saya tidak dipusingkan oleh masalah-masalah apapun ketika pulang. Namun saya juga sadar bahwa ketika saya ada di rumah saya harus melepas atribut apapun di kantor dan tidak main perintah di rumah sebagaimana seorang direktur. Di rumah saya adalah istri bagi suami saya dan ibu anak-anak, ibu rumah tangga biasa. Saya juga suka meminta hal-hal kecil kepada suami saya seperti membelikan pisang goreng seusai dia menjemput anak-anak dari sekolah. Mungkin orang bilang bahwa orang seperti saya bisa saja membeli pisang goreng segerobak... namun bukan itu esensinya. Itu cara saya menjaga perasaan suami agar dia tahu bahwa saya sangat membutuhkan dia meskipun saya semandiri ini. Jadi itu resepnya agar sukses di karir sekaligus dalam keluarga,"
Obrolan diskusi dalam novel tentang seorang wanita yang sukses di karir sekaligus keluarga itu saya simpan dalam benak karena sangat berkesannya itu sekalipun cuma fiksi namun bisa menggugah kesadaran saya bahwa:
Tidak ada lagi yang lebih baik selain seorang wanita dan seorang lelaki yang saling mendukung dalam menjalankan rumah tangga bersama, bukan atas penghasilan siapa yang lebih tinggi, siapa yang lebih banyak gelar atau hal-hal terlihat semacam itu. Namun karena mereka saling mencintai maka mestinya mereka saling menguatkan dan mementingkan apa yang mereka punya selama mereka bersama-sama bukan atas penguatan ego, apalagi cuma karena omongan orang-orang tidak penting diluar hubungan.

Kawan, kehidupan penuh dengan liku-liku yang kita semua tidak akan tahu apa yang akan terjadi, maka jangan lupa siapkan senjata untuk menghadapi apapun sekalipun itu belum terjadi. Ada pakem bahwa kepala keluarga sekaligus tulang punggung, namun tidak selamanya nasib membiarkan itu berlangsung - cuma Tuhan yang tahu. Jadi lebih lapang hati maka lebih baik. 
Begitu kan ya :)

42 comments:

Pelakon Takdir said...

saya setuju.
Tidak ada yang lebih baik dari kehidupan keluarga yang saling mendukung.
saya jadi penasaran dengan novel alpha white itu

Annur Shah said...

subhanallah...
bener kata mb, sgala sswtunya jgn pusingkan ucapan orang lain.
Yups senjatanya pada kendali kita masing2.
setuju mba...

kayaknya mb rjin mngkonsumsi buku.
Senengnya bisa tw dr judulnya...

Mr. Nya' said...

terus terang belum baca novel alpha white,
saya teringat petuah ortu yg diistilahkan dalam ungkapan " phon yang tinggi, hanya jerapah berleher panjang bisa memetik daun2nya"

Bunda sylaa said...

setuju dengan beberapa kalimat dibagian endingnya..

novel alpha white,sepertinya saya pernah dengar

Jiah Al Jafara said...

kembali lagi ke saling~
wah pemikiran dewasa ternyata susah, blajar lagiiii :D
thanks mb' buat sharenya ^^

non inge said...

like this post!!

yang dibutuhkan adalah saling mendukung, itu bener banget...

tak sedikit alpha wife ada sekitar kita loh... walau mungkin tak terekspos...

aku kagum sama mereka yang bisa menjadi wanita karier dan sekigus dapat menjaga rumah tangganya dengan baik... dan seperti yang ada di novel itu bukan hanya kerja seorang wanita tapi pasti ada seseorang (suami) yang mendukung dibelakangnya...

tapi kadang yang terpikirkan menjadi masalah adalah ketika keduanya sama-sama sibuk bekerja dan tak ada yang saling mengalah... :D

Unknown said...

Saya mungkin calonnya yang seperti ini. Saya yang akan lebih sering ngantor cari uang, dan suami saya yang akan lebih sering di rumah mengurus anak-anak.

Dari sekarang sudah belajar untuk tidak sombong dan mau bersikap rendah hati. Juga tetap mengangkat rasa percaya diri pacar meskipun mungkin kelak saya yang akan jadi sumber nafkah terbesar keluarga melebihi dia.

Rawins said...

perasaan malah enak kalo dengan yang mapan
minimal punya pendirian kuat dan bisa lebih banyak sharing daripada yang serba nurut

Annesya said...

Betuuuull maak!
Itulah kenapa cewek macam saya kok bisa-bisanya jomblo. Banyak cowok minder duluan ketika mendekati saya yang pintar, seksi, dan unyu tak terkira ini!!! *ngomongsamatembok*

duniaira.blogspot said...

Jarang koment tapi pingin koment.....
Saya mengalaminya hehehehehhehe

Arif Chasan said...

lah... jadi malu.. pikiran saya ternyata masih sesempit itu yaa.. :D
makasih mbak ninda..

cukup membuka pikiran saya ttg hubungan yg lebih mendalam.. :D

jadi tertarik baca novel itu..
yg nulis siapa mbak?

Ninda said...

judulnya ALPHA WIFE (istri)
Bukan WHITE (putih) ya...

Ninda said...

ah tidak selalu om, burung pun bisa... manusia pun juga bisa kalau naik bangunan dekat dengan pohon itu, bangunan yang tinggi juga pastinya ;)

Ninda said...

ALPHA WIFE :D

Ninda said...

doyan baca selama ada bukunya sih...

Ninda said...

dewasa itu nggak perlu maksa
masing-masing orang punya waktunya sendiri-sendiri

Ninda said...

nah kalau itu sedikit banyak mirip novel judulnya divortiare mbaaak :)

Ninda said...

semoga langgeng ya mbak vicky :)

Ninda said...

curahan hati seorang mas eko

Ninda said...

emak disini menjajah kasurmu
wenak...
:3

Ninda said...

:)

Banyu Waseso Segoro said...

Lapang hati, ....
pelajaran penting yang harus dipetik dari artikel ini.
Salam.

Unknown said...

yang terpenting antara sesama pasangan punya komitmen aja untuk sama merawat anak tetapi terus saling bekerja guna'a bekal anaknya kelak ketika dewasa
entah itu pendapatan mana yg lebih besar, yg inti'a semua demi kebaikan anak

mak beL said...

Banyak setuju mba...

Hanya saja prinsip "Suami adalah Pemimpin" menurut ku hrs tetap pakem krn inilah dasar para istri yang "lebih" tetap menjadi seorang yg rendah hati dan hormat kepada suaminya...sehingga si istri dapat melepaskan smua atribut posisi, gelar, pendapatan atau apapun di luar rumah ketika bersama suami

Slamet Riyadi said...

hmmm kaya gitu ya?

tapi kalo bisa ya pria yg jadi tulang punggung, misal ada sebaliknya biasanya ada masalah dikeluarganya, apalagi soal pendapatan pria itu paling sensitif...

tapi misal bisa saling melengkapi dan harmonis itu jarang

masbas said...

lika liku laki laki. hohoho
udah jarang banget baca2 novel aku mbak, sampean bikin novel lagi lah, biar tak baca. hohoho

masih google account doank yah. terpaksa pasang link wordpress ane deh. :)

kiraitomy.wordpress.com

Ninda said...

yang nulis nama penanya Ollie atau yang punya NulisBuku dan KutuKutuBuku

Ninda said...

sudah aku pasang kok tom

Arif Chasan said...

ooh... tau aku..
pernah ketemu lagi.. hehe XD

attayaya said...

ya jika mereka berdua bisa menerima kondisi semacam itu dan tidak saling menyalahkan, why not

mohon bantuan hibah buku ya Nin

http://www.attayaya.net/2012/02/hibah-sejuta-buku-ala-blogger-fase.html

R10 said...

tapi tetap malu saat melamar ke keluarga besarnya Ninda, makanya masih banyak lelaki yang minder lihat keluarga besar perempuan sangat mapan dibandingkan keluarganya sendiri

putiL said...

pinjemin novelnya :D heheheh

Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" said...

saya sependapat dengan blogger itu nin. saya juga ada sedikit gengsi lah kalo calon pasangan itu lebih tinggi. Baik itu badannya maupun stratanya. :P

tapi di sisi lain, saya setuju juga sama yang kamu bilang itu. fifty-fifty lah.

Clara Canceriana said...

aku juga berpendapat nggak ada yg salah dengan cewek lebih unggul, tapi ada yang bilang biasanya ego cowok yang nggak membolehkan mereka "kalah" dari cewek.

Unknown said...

setuju sekali.. hrs saling mendukung dan memahami.. sehingga semua ttp berjalan harmonis

Muhammad A Vip said...

O ?

Muhammad A Vip said...

ya, lapang dadalah selagi pakaian masih longgar. hidup tak selalu harus begini atau begitu

vie_three said...

gak tau kenapa ya mbak, kita sehati atau apa. hehehe

aku juga diskusiin hal semacam ini niy, dan dari diskusiku sama (ehem-ehem), aku mengambil kesimpulan bahwa laki-laki jadi merasa dianggap dan dihargai ketika tenaganya diperlukan meski dalam hal sekecil apapun. hahaha, aku jadi ngerasa kayak ditampar gitu mbak, abisnya selama ini aku jarang minta bantuan si laki-laki itu. wkwkwkwkwk

Unknown said...

kehidupan memang lika-liku, tapi mari kita bikin enjoy agar semua bisa teratasi :D

Tabah said...

terkadang ketika terpojok dalam keterpurukan... senjata itu tak lekas muncul untuk sebuah solusi... terus gimana dong. . .????

Ninda said...

heeeeemmmm ini ngomongin soal permasalahan pasangan kah? *bingung*

Ninda said...

ciyeee pitriiii uhuyy! :3

Previous Page Next Page Home